Kota Tasikmalaya Diserbu Kafe, Data BPS dan Pemkot Tak Sinkron

jumlah kafe di Kota Tasikmalaya
Suasana di sebuah kafe di Kota Tasikmalaya, Selasa (21/4/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Ledakan kafe di Kota Tasikmalaya kian sulit disangkal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat bahkan menempatkan kota ini di posisi kedua jumlah kafe terbanyak se-Jawa Barat—tepat di bawah Kota Bekasi.

Dalam catatan tersebut, Kota Bekasi memiliki 622 kafe, sementara Kota Tasikmalaya menyusul dengan 496 unit.

Angka ini melampaui Kota Bogor (414), Kota Depok (410), hingga Kota Bandung yang justru tertinggal di angka 228.

Baca Juga:Polisi Tetapkan 4 Tersangka Penganiayaan Pedagang Bakso di Kota TasikmalayaSeleksi Popwilda Kota Tasikmalaya Diserbu 140 Pelajar, Bidik 20 Pemain Terbaik

Sebuah ironi kecil: kota dengan reputasi “ibu kota kafe” malah tersalip oleh daerah yang dulu lebih identik dengan kuliner tradisional.

Namun di balik angka yang tampak gemerlap, terselip ganjalan data.

Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) mencatat jumlah kafe hanya sekitar 152 unit—jauh di bawah versi BPS.

Kepala Disporabudpar, Deddy Mulyana, menyebut perbedaan itu bukan sekadar selisih hitungan, melainkan soal klasifikasi. Pemda memisahkan kategori kafe dari usaha sejenis lainnya.

Di luar kafe, terdapat 362 kedai minuman dan 6.608 kedai makanan yang tersebar di berbagai sudut Kota Tasikmalaya.

“Kemungkinan di data BPS, beberapa jenis usaha itu masuk dalam kategori yang lebih luas,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Di lapangan, geliat kafe memang terasa nyata. Sudut-sudut kota berubah jadi ruang nongkrong baru, terutama bagi anak muda.

Kafe kini bukan sekadar tempat ngopi, tapi juga ruang kerja, diskusi, hingga panggung eksistensi.

Baca Juga:CFD ASN Kota Tasikmalaya Belum Efektif dan Masih Banyak EvaluasiDisrupsi Media Sosial Gerus Budaya, KPID Jawa Barat: Konten Lokal Terancam

Meski begitu, selera belum sepenuhnya “pulang kampung”. Sebagian anak muda masih melirik Kota Bandung untuk berburu suasana yang dianggap lebih variatif dan matang.

“Kalau cari suasana beda, kadang masih ke Bandung. Pilihannya lebih banyak,” tutur Raka (23), pengunjung kafe.

Namun rasa penasaran tetap jadi bahan bakar pertumbuhan lokal. “Kalau ada kafe baru di Tasik, tetap pengen coba,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Nisa (21). Menurutnya, perkembangan kafe di Kota Tasikmalaya mulai terasa signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Sekarang sudah banyak yang nyaman, tinggal konsistensi saja,” katanya.

Fenomena ini menempatkan Kota Tasikmalaya di persimpangan menarik: antara euforia pertumbuhan dan tantangan kualitas.

0 Komentar