Spanduk “Tuyul” di Kebon Kembang Kota Tasikmalaya Dicopot, Keresahan Warga Mereda

spanduk tuyul
Spanduk Tuyul yang sempat dipasang di Kampung Kebon Kembang, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya telah dicabut, Senin (20/4/2026) sore. Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Fenomena ini bahkan disebut berlangsung sejak 2025. Upaya rasional seperti pemasangan CCTV hingga penyimpanan di brankas pun tak membuahkan hasil.

Di titik itulah, logika mulai goyah—dan mitos lama kembali dipanggil: tuyul.

Istri Ketua RT, Teni Tasliani (52), menyebut mayoritas korban adalah pedagang kecil. Kehilangan yang tampak sepele, namun jika ditotal bisa mencapai angka signifikan.

Baca Juga:Sentuhan di Balik Papan: Versi Korban Perempuan Dugaan Asusila Berujung Penculikan di Kota TasikmalayaKasus Tukang Bakso di Kota Tasikmalaya Diculik karena Dugaan Asusila Dilaporkan ke Polisi, ini Pengakuan Saksi

“Sedikit-sedikit tapi sering. Ada yang sampai puluhan juta kalau dihitung,” katanya.

Lebih jauh, kasus ini sempat memicu konflik domestik. Kecurigaan merembet ke dalam rumah tangga.

“Awalnya disangka salah hitung, bahkan nuduh keluarga sendiri. Lama-lama jadi masalah,” jelasnya.

Dalam kebuntuan itulah, spanduk dipasang. Sebuah solusi yang tidak ilmiah, namun terasa “cukup” untuk meredam keresahan. Dan anehnya, sejak spanduk berdiri, laporan kehilangan disebut mereda.

Kisah ini menjadi potret kecil ironi di tengah Kota Tasikmalaya. Ketika uang hilang tanpa jejak, warga berdiri di persimpangan antara logika dan legenda. Spanduk boleh turun, tapi pertanyaan belum tentu ikut hilang.

Di kota yang terus bergerak maju, kadang yang tak terlihat justru paling ramai diperbincangkan. (rezza rizaldi)

0 Komentar