TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Musyawarah Cabang di Hotel Mandalawangi itu seharusnya melahirkan pemimpin baru. Yang lahir justru tanda tanya.
Sabtu sore, 18 April 2026, Partai Persatuan Pembangunan Kota Tasikmalaya tidak berhasil menetapkan satu pun nama formatur.
Muscab yang sejak awal diharapkan menjadi panggung demokrasi internal, justru harus “diparkir” ke tingkat wilayah—ke DPW PPP Jawa Barat.
Baca Juga:Debat Sengit! Muscab PPP Kota Tasikmalaya Dibawa ke DPW, Formatur Ikut MandekSekjen PWI Zulmansyah Sekedang Wafat akibat Serangan Jantung, Dunia Pers Berduka
Diparkir. Istilah yang sederhana. Tapi berat maknanya. Artinya, mesin di tingkat kota belum mampu menyelesaikan urusannya sendiri. Interupsi yang Tak Ada Habisnya
Sejak siang, suasana di ruang sidang Bale Rancage mulai terasa panas. Rapat dimulai pukul 13.30 WIB. Pembahasan laporan pertanggungjawaban (LPJ) dan pandangan umum PAC menjadi titik awal ketegangan.
Interupsi demi interupsi terdengar. Bertubi-tubi. Tidak memberi ruang jeda. Forum bahkan harus diskors sejenak untuk salat Ashar.
Biasanya, setelah salat, suasana menjadi lebih teduh. Tapi kali ini, tidak sepenuhnya. Ketegangan tetap terasa. Seperti bara yang tidak padam. Nyaris Beradu Wajah
Satu momen menjadi sorotan. Ketika Hilman Wiranata, yang menjabat Plt Sekretaris DPC, terlibat perdebatan panas dengan Imam Fauzan Amir Uskara, Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan.
Bahkan para pendukung Hilman diketahui sempat meneriakkan kata-kata usir..usir.. Padahal Fauzan datang bukan sebagai orang biasa.
Ia adalah perwakilan khusus dari Ketua Umum Muhammad Mardiono. Itulah sebabnya, perdebatan itu terasa sensitif.
Baca Juga:Hoaks TNI Pukul Warga Saat Razia Tramadol, Dandim Tasikmalaya Buka FaktaKonflik Internal DPP Jangan Menjalar ke Muscab DPC PPP di Tasikmalaya
Pendukung Hilman sempat melontarkan kata-kata keras kepada Fauzan. Suasana memanas. Nyaris beradu wajah. Nyaris.
Untungnya, situasi tidak benar-benar pecah. Ketika Fauzan keluar dari forum, suasana sedikit mereda.
Menariknya, Hilman justru menunjukkan sikap yang banyak disebut sebagai langkah gentleman. Ia meminta maaf. Dengan Mengantarkan Fauzan hingga ke mobilnya.
“Beliau keluar bukan diusir. Beliau mengejar penerbangan,” tegas Hilman. Kalimat itu seperti ingin meredam api yang sudah telanjur membesar.
Setelah semua dinamika itu, satu keputusan akhirnya diambil. Bukan menetapkan ketua. Bukan menetapkan formatur. Melainkan membawa proses Muscab ke tingkat wilayah.
Tanpa satu pun nama disepakati. Ini bukan hasil yang biasa. Dalam tradisi Muscab, formatur adalah tujuan utama. Tanpa formatur, Muscab seperti kapal yang berlayar tanpa pelabuhan tujuan.
