Ravezzani: Cardinale Tidak Mengerti Cara Kerja Klub Besar Seperti AC Milan

Gerry Cardinale
Gerry Cardinale Foto: Tangkapan layar Instagram
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Kritik keras kembali menghantam manajemen AC Milan setelah musim buruk yang membuat Rossoneri gagal lolos ke Liga Champions.

Kali ini, sorotan datang dari direktur TeleLombardia, Fabio Ravezzani, yang menilai pemilik klub Gerry Cardinale telah melakukan kesalahan besar dalam mengelola Milan selama empat tahun terakhir.

Menurut Ravezzani, masalah utama Milan bukan hanya soal hasil di lapangan, tetapi juga cara klub dijalankan setelah diambil alih RedBird Capital.

Baca Juga:Como Incar Sebastiano Esposito, Inter Bisa Dapat Uang Kaget hingga Rp150 MiliarDejan Stankovic Tak Ingin Anaknya Cuma Jadi Pemain Cadangan Inter Milan

Sejak kekalahan 1-2 dari Cagliari pada laga terakhir musim ini, suasana di kalangan tifosi Rossoneri semakin suram.

Kekalahan itu sekaligus memastikan Milan gagal lolos ke Liga Champions, sesuatu yang dianggap sebagai pukulan besar secara olahraga maupun finansial.

Banyak suporter sebelumnya mendesak agar manajemen melakukan perubahan besar. Nama-nama seperti Giorgio Furlani, Zlatan Ibrahimovic, dan Paolo Scaroni menjadi sasaran kritik tifosi.

Namun yang terjadi justru lebih mengejutkan. Milan malah melepas beberapa figur penting sekaligus seperti Furlani, Massimiliano Allegri, Igli Tare, dan Geoffrey Moncada.

Menurut Ravezzani, persoalan terbesar bukan sekadar pergantian orang, tetapi fakta bahwa Milan melakukan “bersih-bersih” tanpa persiapan matang.

Saat rival-rival di Serie A mulai menata tim untuk musim depan, Milan justru kehilangan empat figur penting sekaligus dan belum memiliki struktur baru yang jelas.

Dalam komentarnya, Ravezzani menilai Cardinale gagal memahami bahwa klub besar seperti Milan membutuhkan kemenangan untuk menjaga daya tarik dan nilainya.

Baca Juga:Massimiliano Allegri: Pelatih Baru Napoli yang Dibenci Penggemarnya SendiriUsai Era “One Man Show” Paolo Maldini, AC Milan Tak Lagi Jadi Sorotan Sepak Bola Eropa

“Klub besar yang tidak pernah menang akan kehilangan minat, prestise, dan nilai. Ini tidak pernah dipahami Cardinale,” ujar Ravezzani.Ia kemudian menuding Cardinale terlalu sering mengambil jalan pintas dengan menjual pemain-pemain penting demi alasan finansial.

“Dia melakukan hal paling mudah sekaligus paling merusak: setiap kali punya kesempatan, dia menjual satu atau dua aset terbaik lalu menggantinya dengan pemain yang nilainya lebih rendah, gajinya lebih kecil, dan prospeknya di bawah,” lanjutnya.

Menurut Ravezzani, strategi seperti itu mungkin bisa berhasil sesekali, tetapi tidak akan bertahan lama untuk klub sebesar Milan.

0 Komentar