Kartini on Wheels Tasikmalaya: Saat Perempuan Berkebaya Menaklukkan Jalanan

Kartini on Wheels Kota Tasikmalaya
Puluhan perempuan berkebaya menyusuri Kota Tasikmalaya dengan bersepeda, Minggu (19/4/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Kebaya akhirnya “turun gunung”. Bukan lagi sekadar pajangan di panggung seremoni, melainkan ikut berbaur dengan debu jalanan dan deru sepeda di Kota Tasikmalaya.

Minggu (19/4/2026), puluhan perempuan mengayuh santai dalam kegiatan Kartini on Wheels, cara merayakan Hari Kartini tanpa basa-basi protokoler.

Rute yang ditempuh tak muluk: dari Jalan H. Juanda, melintasi terusan Jalan BCA, menuju Paseh, hingga finis di Jalan Pemuda. Namun pesan yang dibawa tak sesederhana rutenya.

Baca Juga:PKS Kota Tasikmalaya Perluas Basis RW, Strategi Sunyi Menuju Kursi Dua Kali Lipat di Pemilu 2029Spanduk Tuyul Hebohkan Kota Tasikmalaya, Warga Kebong Kembang Resah Uangnya Sering Raib Misterius

Di sepanjang perjalanan, peserta sesekali berhenti—bukan untuk seremoni, tapi membagikan snack berisi kutipan inspiratif tentang perempuan kepada pengguna jalan. Sebuah gestur kecil, tapi terasa lebih “hidup” dibanding pidato panjang tanpa gema.

Formatnya sederhana: berkebaya, bersepeda, lalu menyapa kota. Tanpa panggung, tanpa baliho besar, tanpa sambutan berlembar-lembar. Justru di situlah letak kekuatannya—perempuan hadir apa adanya di ruang publik, tanpa perlu kehilangan identitas.

Perwakilan Tasik Urban Cyclist, Fanny Nurhasanah, menyebut kegiatan ini sebagai cara komunitasnya memaknai Hari Kartini secara lebih kontekstual.

“Kita mengadakan Kartini on Wheels sebagai bentuk memperingati Hari Kartini. Pesertanya memang didominasi perempuan,” ujarnya.

Menurutnya, kebaya yang dikenakan bukan sekadar kostum simbolik yang dipakai setahun sekali, lalu dilupakan.

“Pakai kebaya karena ini menggambarkan bahwa kebaya punya potensi. Ini juga bentuk pemberdayaan perempuan sebagai ciri khas,” kata Fanny.

Di tengah realitas ruang publik yang kerap terasa “maskulin”, kegiatan ini seperti menyelipkan pesan halus: perempuan tidak perlu meminta izin untuk hadir. Mereka cukup datang—dan mengayuh.

Baca Juga:Nyaris Beradu Wajah!Debat Sengit! Muscab PPP Kota Tasikmalaya Dibawa ke DPW, Formatur Ikut Mandek

“Ini menunjukkan perempuan juga bisa berdaya, bisa melakukan aktivitas lain yang selaras dengan laki-laki,” tambahnya.

Sebanyak 70 hingga 80 peserta terlibat dalam kegiatan ini. Mayoritas perempuan, meski beberapa laki-laki ikut meramaikan. Interaksi di jalan berlangsung cair—ada yang berhenti, ada yang melambat, ada pula yang sekadar menerima snack sambil membaca pesan yang terselip.

Tak ada panggung megah, tapi pesan sampai. Di tengah riuhnya peringatan yang kadang lebih sibuk pada seremoni ketimbang substansi, Kartini on Wheels justru memilih jalur sunyi—dan mungkin, justru itu yang lebih mengena. (ayu sabrina barokah)

0 Komentar