TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Dari lorong sunyi pesantren hingga riuhnya laboratorium riset kelas dunia, jejak langkah itu kini bermuara pada satu gelar: doktor.
Di usia 26 tahun, Muhammad Irfansyah Maulana menepis anggapan lama bahwa santri hanya piawai di mimbar—ia membuktikan, mereka juga bisa bersinar di panggung sains global.
Bukan kisah instan. Irfan lahir di sebuah desa di Kabupaten Sukabumi, jauh dari gemerlap kota. Orang tuanya bukan akademisi ternama—ayah lulusan SMA, ibu lulusan SMP.
Baca Juga:Kasus Penganiayaan Kiai Cikatomas Jangan Mandek, Publik Desak Polisi Bergerak CepatASN IKAPTK Kota Tasikmalaya Wajib Menjadi Motor Pelayanan Publik
Namun di rumah sederhana itulah, cita-cita besar dirawat, diam-diam tapi konsisten. Pendidikan, bagi keluarganya, bukan sekadar pilihan, melainkan jalan hidup.
Tahun 2010, ia menapakkan kaki di Pondok Pesantren Cipasung, Singaparna. Di sana, disiplin bukan jargon, melainkan ritme harian.
Dari kitab kuning hingga pelajaran sains, Irfan menyerap keduanya tanpa sekat. Kimia kemudian menjadi pelabuhan intelektualnya—sunyi, rumit, tapi menjanjikan masa depan.
Selepas meraih gelar sarjana di UPI Bandung pada 2020, jalan tak serta-merta lapang. Beasiswa tak langsung datang, dan penolakan sempat menjadi teman perjalanan.
Namun seperti air yang setia mencari celah, Irfan terus melamar hingga akhirnya diterima di Daegu Gyeongbuk Institute of Science and Technology (DGIST), Korea Selatan.
Awalnya hanya untuk program magister. Tapi nasib kadang menyukai kejutan—ia justru direkomendasikan masuk program integrated S2–S3 selama lima tahun di bidang Energy Science and Engineering.
Di negeri ginseng, Irfan kembali menjadi “santri”—kali ini santri ilmu pengetahuan. Bahasa asing, budaya baru, dan sistem akademik yang keras menjadi ujian harian. Belum lagi laboratorium yang tak kenal kompromi.
Baca Juga:Kota Tasikmalaya Kejar Lahan SR 7 Hektar, Titik di Bungursari Hampir 80 Persen DealPenganiayaan Kiai Sepuh Cikatomas Picu Tekanan, Santri Siap Turun Jika Polisi Lamban
“Eksperimen gagal itu biasa. Yang luar biasa adalah tetap bertahan saat kegagalan itu datang berbulan-bulan,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Dan ia bertahan. Satu per satu publikasi ilmiah lahir di jurnal internasional bereputasi. Penghargaan Outstanding Graduate Researcher dari DGIST pun diraih.
Bahkan menjelang akhir studi doktoralnya, ia kembali mencatatkan publikasi di jurnal top bidang material—sebuah “tanda tangan” ilmiah yang tak bisa dianggap remeh.
