Santri Cipasung Jadi Doktor Muda Dunia, dari Desa ke Laboratorium Global

santri cipasung jadi doktor muda dunia
Muhammad Irfansyah Maulana, alumni Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya. istimewa for radartasik.id
0 Komentar

Pilihan risetnya bukan tanpa alasan. Di tengah krisis energi global, Irfan menambatkan fokus pada energi bersih—khususnya teknologi hydrogen fuel cell. Baginya, ini bukan sekadar tren, tapi kebutuhan masa depan.

“Dunia sedang bergerak ke energi ramah lingkungan. Hidrogen punya potensi besar untuk kendaraan, listrik, hingga industri,” tuturnya.

Namun di balik segala capaian itu, Irfan tak pernah lupa dari mana ia berangkat. Pesantren, katanya, bukan hanya tempat belajar agama—tetapi kawah candradimuka karakter.

Baca Juga:Kasus Penganiayaan Kiai Cikatomas Jangan Mandek, Publik Desak Polisi Bergerak CepatASN IKAPTK Kota Tasikmalaya Wajib Menjadi Motor Pelayanan Publik

Di sana, ia belajar bahwa disiplin adalah fondasi, kesabaran adalah bahan bakar, dan keikhlasan adalah arah. Nilai-nilai itulah yang menjaganya tetap waras di tengah tekanan riset yang kerap tak manusiawi.

Menariknya, Irfan memandang ilmu bukan sekadar alat mengejar gelar. Ada dimensi yang lebih sunyi—dan sering dilupakan.

“Menuntut ilmu itu bagian dari ibadah,” ucapnya.

Pernyataan sederhana, tapi menohok. Di saat sebagian orang mengejar titel demi gengsi, Irfan justru menempatkan ilmu sebagai jalan pengabdian.

Kini, setelah menyandang PhD di usia muda, ia tidak ingin sekadar menjadi “produk luar negeri” yang hilang arah.

Ia ingin pulang—atau setidaknya berkontribusi bagi Indonesia, terutama dalam pengembangan energi bersih.

Namun ia juga menyentil, dengan nada halus tapi terasa: negeri ini masih sering abai pada peneliti. Iklim riset belum sepenuhnya sehat, penghargaan terhadap ilmuwan masih setengah hati.

“Harus ada komitmen pemerintah untuk mendukung riset, termasuk honorarium dan pendanaan yang layak,” tegasnya.

Baca Juga:Kota Tasikmalaya Kejar Lahan SR 7 Hektar, Titik di Bungursari Hampir 80 Persen DealPenganiayaan Kiai Sepuh Cikatomas Picu Tekanan, Santri Siap Turun Jika Polisi Lamban

Di ujung cerita, Irfan menitipkan pesan untuk generasi muda—khususnya para santri yang sering dipandang sebelah mata.

Jangan merasa kecil hanya karena berasal dari desa. Jangan minder karena latar belakang sederhana. Dunia, katanya, tidak pernah bertanya kamu dari mana—yang penting adalah sejauh mana kamu mau melangkah.

Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk negeri yang gemar merayakan seremoni, kisah Irfan adalah pengingat sunyi: bahwa kerja keras, jika dirawat dengan disiplin dan doa, tak pernah benar-benar sia-sia. Ia hanya menunggu waktu untuk bersuara. (ayu sabrina barokah)

0 Komentar