Penganiayaan Kiai Sepuh Cikatomas Picu Tekanan, Santri Siap Turun Jika Polisi Lamban

Penganiayaan kyai sepuh cikatomas
Kolase Kyai Sepuh Cikatomas korban penganiayaan dan Tokoh ormas Islam Tasikmalaya, KH Muhammad Yan-yan Al Bayani. istimewa for radartasik.id
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Kasus penganiayaan terhadap kiai sepuh di Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya, memantik amarah publik.

Tekanan kepada aparat penegak hukum menguat, bahkan ancaman aksi dari kalangan santri mulai mencuat jika penanganan dinilai berjalan lamban.

Peristiwa itu menimpa Kiai Abdul Yani, warga Desa Cayur, pada Rabu (15/4/2026).

Baca Juga:HUT Persit ke-80 di Tasikmalaya: Tanam Pohon Bukan Sekadar SeremoniBedug Raksasa Masjid Agung Tasikmalaya Diperbaiki Mandiri, Ikon Kota Diselamatkan

Saat hendak menuju kebun usai menunaikan salat Dzuhur, korban berpapasan dengan sekelompok orang.

Entah apa pemicunya, situasi mendadak memanas hingga berujung dugaan penganiayaan.

Akibat kejadian tersebut, kiai sepuh itu sempat pingsan di lokasi dan diselamatkan warga yang melintas.

Informasi yang beredar menyebut, pelaku diduga oknum dari salah satu organisasi kemasyarakatan.

Sehari berselang, ratusan umat Islam menggelar aksi unjuk rasa di depan Mapolsek Cikatomas, Kamis (16/4/2026).

Mereka mendesak aparat segera menangkap pelaku dan menuntaskan kasus tersebut tanpa tarik-ulur.

Tokoh ormas Islam Tasikmalaya, KH Muhammad Yan-yan Al Bayani, mengecam keras insiden itu.

Menurutnya, tindakan kekerasan terhadap ulama sepuh bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga melukai rasa keadilan umat.

Baca Juga:Besok Rabu Ngarumat Hulu Cai di Bungursari Kota Tasikmalaya, Panggung Krisis LingkunganMahasiswi UMB Tasikmalaya Hilang Lebih dari 10 Hari: Kampus Bergerak, Polisi Menyisir

“Ini tindakan biadab. Kiai sepuh dianiaya sampai pingsan, sungguh keterlaluan. Umat jelas tidak terima,” tegasnya.

Ia mendesak Polres Tasikmala bergerak cepat. Dalam nada yang tak lagi sekadar imbauan, ia juga mengingatkan potensi reaksi dari kalangan santri.

“Kalau aparat lambat, kami akan turunkan 100 santri terlatih untuk memburu pelaku,” ujarnya, dengan nada tinggi.

Meski demikian, pihaknya mengaku masih memberikan ruang dan kepercayaan kepada kepolisian untuk bekerja secara profesional, cepat, dan transparan.

Sebuah “masa tenggang” yang tampaknya tidak akan panjang jika progres tak kunjung terlihat.

Senada, KH Ujang Surahman, Kepala Staf Ressant (Resimen Santri), turut mengutuk keras dugaan penganiayaan tersebut.

Ia menuntut aparat segera menangkap dan memproses pelaku sesuai hukum yang berlaku.

Sementara itu, di tengah tensi yang meninggi, suara penyejuk datang dari tokoh ulama Cikatomas, Kiai Apipudin. Ia meminta umat menahan diri agar situasi tidak semakin keruh.

“Marah itu wajar, tapi jangan sampai lepas kendali. Kuncinya, aparat harus bergerak ekstra cepat agar kemarahan umat tidak berubah menjadi gejolak,” katanya.

0 Komentar