TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Peringatan hari ulang tahun ke-80 Persit Kartika Chandra Kirana di Tasikmalaya tahun ini tak lagi terjebak pada pola lama: panggung, sambutan, lalu bubar tanpa jejak.
Di lahan belakang Koramil Tawang, Jumat (17/4/2026), Persit Kodim 0612/Tasikmalaya memilih jalan berbeda—sunyi, sederhana, tapi berdaya panjang: menanam pohon.
Di bawah komando Ketua Persit KCK Cabang XXIII Kodim 0612/Tasikmalaya, Ny. Rima Imvan Ibrahim, kegiatan ini menjelma lebih dari sekadar agenda seremonial.
Baca Juga:Bedug Raksasa Masjid Agung Tasikmalaya Diperbaiki Mandiri, Ikon Kota DiselamatkanBesok Rabu Ngarumat Hulu Cai di Bungursari Kota Tasikmalaya, Panggung Krisis Lingkungan
Tanah yang dicangkul bukan hanya untuk menanam bibit, tetapi juga menanam komitmen—sesuatu yang kerap absen dalam perayaan-perayaan formal.
Deretan tanaman produktif seperti mangga kiojay, matoa, jambu batu kristal, jambu citra merah, hingga jambu madu delima dipilih dengan pertimbangan matang.
Bukan sekadar hijau di mata, tapi juga berbuah di masa depan. Ada nilai ekologis, ada pula nilai ekonomis yang bisa dipetik masyarakat sekitar.
Di tengah isu lingkungan yang kerap hanya jadi bahan pidato, langkah Persit ini terasa seperti sindiran halus—bahwa menjaga bumi tak cukup dengan kata-kata, tapi perlu aksi nyata, sekecil apa pun itu.
Dan ironisnya, justru gerakan kecil seperti ini yang sering kali luput dari sorotan.
“Menanam hari ini adalah investasi untuk generasi mendatang,” ujar Ny. Rima dalam keterangannya.
Pernyataan yang terdengar sederhana, namun menyimpan makna panjang: bahwa ketahanan pangan keluarga bisa dimulai dari halaman sendiri, dari bibit yang ditanam dengan kesadaran.
Baca Juga:Mahasiswi UMB Tasikmalaya Hilang Lebih dari 10 Hari: Kampus Bergerak, Polisi MenyisirAroma “Daftar Dukungan” Plh Sekda Kota Tasikmalaya Bikin Gerah
Suasana kegiatan pun jauh dari kesan kaku. Tangan-tangan yang biasanya sibuk dengan agenda organisasi kini bersentuhan langsung dengan tanah.
Canda dan tawa mengiringi setiap lubang yang digali, seolah menegaskan bahwa kerja kolektif tak harus selalu formal untuk bisa berdampak.
Momentum usia ke-80 ini menjadi semacam refleksi: organisasi boleh menua, tapi semangat memberi manfaat tak boleh ikut renta.
Persit menunjukkan, peran perempuan bukan hanya berada di belakang layar, melainkan juga sebagai penggerak perubahan—bahkan dari sesuatu yang tampak sepele seperti menanam pohon.
