Besok Rabu Ngarumat Hulu Cai di Bungursari Kota Tasikmalaya, Panggung Krisis Lingkungan

peringatan Hari Bumi 2026 di Kota Tasikmalaya
Ketua DKKT, Tatang Supriatna Sumpena. istimewa for radartasik.id
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Peringatan Hari Bumi 2026 di Kota Tasikmalaya dipastikan tak sekadar seremoni.

Melalui kegiatan bertajuk Ngarumat Hulu Cai, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT) justru menyiapkan panggung kritik terbuka terhadap krisis lingkungan yang kian terasa, terutama di kawasan hulu.

Ketua DKKT, Tatang Supriatna Sumpena—akrab disapa Tatang Pahat—menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum refleksi sekaligus sindiran halus bagi arah pembangunan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kelestarian lingkungan.

Baca Juga:Mahasiswi UMB Tasikmalaya Hilang Lebih dari 10 Hari: Kampus Bergerak, Polisi MenyisirAroma “Daftar Dukungan” Plh Sekda Kota Tasikmalaya Bikin Gerah

Menurutnya, kondisi di lapangan sudah menunjukkan tanda-tanda yang sulit dibantah. Tutupan vegetasi menyusut, daya resap tanah melemah, dan debit mata air terus menurun.

“Kalau hulu rusak, krisis di hilir tinggal menunggu waktu,” ujarnya Jumat (17/4/2026) menjadi pesan yang terus digaungkan dalam kegiatan tersebut.

Ia menyebut, krisis lingkungan yang terjadi bukan peristiwa tiba-tiba, melainkan akumulasi dari lemahnya pengawasan, alih fungsi lahan yang tak terkendali, serta minimnya keberpihakan kebijakan terhadap kawasan resapan.

“Ngarumat Hulu Cai bukan hanya seremoni budaya. Ini gerakan moral. Ada nilai spiritual, kearifan lokal, sekaligus aksi nyata menjaga sumber kehidupan,” ujarnya.

Kegiatan ini akan digelar pada Rabu, 22 April 2026, berlokasi di kawasan mata air Gedong Cai, Gunung Kokosan, Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya.

Sejumlah rangkaian acara telah disiapkan, mulai dari kirab budaya keliling kota, doa dan ritual adat, aksi bersih kawasan hulu, ritual tanam, hingga pertunjukan seni budaya.

Seluruhnya dirancang sebagai bentuk pengingat bahwa air bukan sekadar sumber daya, melainkan penopang kehidupan yang kian terancam.

Baca Juga:Kuota Haji Kota Tasikmalaya Melejit, APBD Dipaksa Ikut LariCFD ASN Kota Tasikmalaya: Ganti Gaya, Bukan Ganti Kebiasaan!

Lebih jauh, DKKT juga mendorong Pemerintah Kota Tasikmalaya dan DPRD untuk tidak berhenti pada seremoni tahunan.

Mereka diminta hadir dengan langkah konkret, terukur, dan berkelanjutan dalam menjaga kawasan hulu.

Pesan leluhur Sunda yang kembali diangkat dalam kegiatan ini terasa relevan dengan kondisi hari ini: leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak. Sebuah peringatan lama yang, sayangnya, mulai terasa nyata.

Hari Bumi tahun ini pun diharapkan tak berhenti sebagai agenda simbolik. Jika tidak, kritik yang disuarakan dalam “Ngarumat Hulu Cai” bisa berubah menjadi kenyataan pahit yang harus ditanggung bersama. (rezza rizaldi)

0 Komentar