TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Bedug raksasa yang menjadi ikon Kota Tasikmalaya akhirnya kembali berdiri gagah setelah sempat rusak parah.
Perbaikan dilakukan secara mandiri oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) bersama jamaah, tanpa bantuan pihak pemberi hibah seperti sebelumnya.
Ketua DKM Masjid Agung Kota Tasikmalaya, KH Aminudin Bustomi, mengungkapkan bahwa pihaknya sempat menunggu bantuan dari pemerintah provinsi.
Bahkan, komunikasi awal sempat terjalin melalui perwakilan dari biro terkait.
Baca Juga:Besok Rabu Ngarumat Hulu Cai di Bungursari Kota Tasikmalaya, Panggung Krisis LingkunganMahasiswi UMB Tasikmalaya Hilang Lebih dari 10 Hari: Kampus Bergerak, Polisi Menyisir
“Waktu itu kami menunggu dari provinsi, bahkan sudah ada yang mengecek dan menjanjikan perbaikan. Tapi sampai sekarang tidak terealisasi. Akhirnya, tanpa banyak bicara, kami berinisiatif sendiri bersama jamaah,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Ia menyebut, bahan pengganti didatangkan dari Jawa Timur dengan spesifikasi khusus, mengingat ukuran bedug yang tidak lazim.
Diameter bedug mencapai sekitar 2,6 meter dengan bobot kulit yang bisa mencapai beberapa ton.
“Versi mereka, ini termasuk yang terbesar. Bahkan dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Barat maupun Jawa Tengah, termasuk di Masjid Demak, ukuran kita lebih besar,” katanya.
Perbaikan tidak hanya sebatas mengganti kulit, tetapi juga mempercantik tampilan bedug sebagai ikon masjid.
Pengecatan ulang, pemasangan lampu, hingga pelindung paranet dilakukan untuk mencegah kerusakan akibat cuaca.
“Sekarang lebih terlihat asli dan lebih awet. Kita juga pasang pelindung supaya tidak kena air hujan langsung. Apalagi menjelang Idul Adha, jamaah yang datang semakin banyak,” tambahnya.
Sebelumnya, bedug raksasa tersebut mengalami kerusakan serius akibat faktor cuaca.
Baca Juga:Aroma “Daftar Dukungan” Plh Sekda Kota Tasikmalaya Bikin GerahKuota Haji Kota Tasikmalaya Melejit, APBD Dipaksa Ikut Lari
Bagian kulit robek di sisi kiri dan kanan, menjadi kerusakan kedua setelah kejadian serupa pada 2017.
Bendahara DKM, Heri Hendriyana, menjelaskan bahwa pihak pemberi hibah yang dulu bertanggung jawab atas perbaikan kini sudah tidak bisa dihubungi.
“Dulu ada klausul perbaikan dari pemberi hibah, dan itu terbukti saat pertama rusak langsung diganti. Tapi sekarang komunikasinya terputus, jadi kami bergerak sendiri,” terangnya.
Hal senada disampaikan staf sekretariat DKM, Khoirul, yang memastikan kerusakan murni akibat faktor alam.
“Karena panas dan hujan, tidak ada unsur kesengajaan,” katanya.
