Bedug sepanjang 4 meter ini bukan sekadar alat penanda waktu salat. Dibuat oleh Trimanto, seorang empu gamelan peraih penghargaan UNESCO, bedug tersebut memiliki nilai sejarah tinggi.
Menggunakan kayu Bengkiray pilihan dan dikerjakan selama dua bulan oleh 16 pekerja, bedug ini juga pernah mencatatkan rekor MURI sebagai yang terbesar di Indonesia.
Meski sempat tak bisa ditabuh, bedug tetap menjadi magnet bagi jamaah dan wisatawan yang datang ke Masjid Agung Kota Tasikmalaya, terutama untuk berswafoto.
Baca Juga:Besok Rabu Ngarumat Hulu Cai di Bungursari Kota Tasikmalaya, Panggung Krisis LingkunganMahasiswi UMB Tasikmalaya Hilang Lebih dari 10 Hari: Kampus Bergerak, Polisi Menyisir
Kini, setelah diperbaiki secara gotong royong, bedug raksasa itu kembali menjadi simbol keteguhan—bahwa ikon kota tak selalu diselamatkan oleh janji, tapi oleh kepedulian. (rezza rizaldi)
