TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Pemandangan tak biasa terlihat di Aula Bappelitbangda Kota Tasikmalaya, Kamis (16/4/2026).
Puluhan lansia duduk rapi dengan buku paket terbuka, alat tulis di tangan, dan wajah serius layaknya pelajar.
Ini bukan nostalgia masa sekolah, melainkan potret kesungguhan mengikuti Sekolah Lansia yang digagas Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:Mahasiswi UMB Tasikmalaya Hilang Lebih dari 10 Hari: Kampus Bergerak, Polisi MenyisirAroma “Daftar Dukungan” Plh Sekda Kota Tasikmalaya Bikin Gerah
Di tengah anggapan bahwa usia senja adalah fase “menunggu waktu”, program ini justru hadir sebagai bantahan halus—bahwa belajar dan bertumbuh tak mengenal kata pensiun.
Kegiatan ini tak sekadar mengurus fisik yang mulai renta, tetapi juga menyorot aspek yang kerap luput: kesehatan mental.
Sesuatu yang sering dianggap sepele, bahkan tabu, justru dibedah secara terbuka di ruang kelas lansia ini.
Trainer Family Therapist, Nana Supriatna atau yang akrab disapa Abi Nana, menilai pemahaman kesehatan holistik di kalangan lansia masih timpang.
Mental sering kali baru dibicarakan saat masalah datang—sebuah kebiasaan yang, menurutnya, sudah saatnya diubah.
“Kesehatan mental ini sering dianggap tabu. Baru dibahas ketika ada gangguan. Padahal ini kebutuhan dasar yang bisa dilatih setiap hari,” ujarnya.
Dalam sesi pembelajaran, ia mengangkat tema mindfulness untuk lansia—sebuah pendekatan yang mengajak peserta lebih sadar terhadap pikiran dan perasaan sendiri.
Baca Juga:Kuota Haji Kota Tasikmalaya Melejit, APBD Dipaksa Ikut LariCFD ASN Kota Tasikmalaya: Ganti Gaya, Bukan Ganti Kebiasaan!
Bukan sekadar teori, tapi latihan untuk menikmati hidup dengan lebih tenang di tengah usia yang kerap dipenuhi kekhawatiran.
“Bagaimana kita lebih fokus, lebih jernih terhadap pikiran dan perasaan, serta menjalani hidup dengan lebih santai dan menikmati,” tambahnya.
Ketua PWRI Kota Tasikmalaya, Rahmat Kurnia, mengungkapkan Sekolah Lansia ini diikuti 60 peserta dengan dukungan 17 pengelola.
Dalam kesempatan yang sama, kegiatan juga dirangkaikan dengan halal bihalal yang dihadiri sekitar 150 anggota PWRI non-siswa.
Ia mengakui, sebelumnya pemahaman tentang kesehatan mental masih sebatas praktik seadanya. Namun setelah mengikuti materi, perspektifnya berubah—lebih terarah dan terukur.
“Mendapat pencerahan, jadi lebih percaya diri dalam menghadapi hari tua—bagaimana bahagia, nyaman, dan tenang,” katanya.
