Rahmat menegaskan, Sekolah Lansia bukan sekadar program seremonial yang berhenti di spanduk dan dokumentasi.
Ada misi membangun ketahanan mental agar lansia tidak hanya “panjang umur”, tapi juga “panjang bahagia”.
Program ini merupakan inisiatif PWRI Jawa Barat dan belum merata di seluruh daerah. Kota Tasikmalaya termasuk yang berani memulai lebih dulu, meski dengan segala keterbatasan.
Baca Juga:Mahasiswi UMB Tasikmalaya Hilang Lebih dari 10 Hari: Kampus Bergerak, Polisi MenyisirAroma “Daftar Dukungan” Plh Sekda Kota Tasikmalaya Bikin Gerah
“Tidak semua daerah siap. Tapi karena niat ingin memandirikan dan menyehatkan sesama lansia, kita jalankan,” tegasnya.
Menariknya, konsep Sekolah Lansia dibuat menyerupai pendidikan formal. Ada kurikulum, wali kelas, kepala sekolah, hingga sistem administrasi.
Bahkan, para peserta akan diwisuda pada Desember mendatang bersama sekitar 3.000 lansia se-Jawa Barat—lengkap dengan toga, layaknya sarjana.
Sebuah simbol yang mungkin sederhana, tapi menyimpan pesan satir: di saat sebagian orang muda masih bingung arah hidup, para lansia ini justru kembali ke kelas—belajar menata diri, merawat pikiran, dan mendefinisikan ulang arti “tua”. (ayu sabrina barokah)
