SMAN 1 Tasikmalaya Dorong Transformasi GTK Berbasis Pancawaluya

SMAN 1 Tasikmalaya
Kabid GTK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dr Firman Oktora, saat memberikan arahan kepada para guru dan tenaga kependidikan SMAN 1 Tasikmalaya, Rabu (15/4/2026). (Fitriah Widayanti/Radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – SMAN 1 Tasikmalaya menggelar workshop bertajuk Transformasi GTK Istimewa: Penguatan Etos dan Peran GTK SMAN 1 Tasikmalaya dalam Membentuk Karakter Pancawaluya. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari, Selasa-Rabu (14-15/4/2026).

Workshop ini digelar sebagai upaya memperkuat kualitas guru dan tenaga kependidikan di tengah tuntutan dunia pendidikan yang terus berkembang. Kegiatan yang diikuti para guru dan tenaga kependidikan itu dirancang untuk memperdalam peran pendidik sebagai pembentuk karakter siswa, bukan sekadar penyampai materi ajar.

Selama dua hari pelaksanaan, workshop menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Dr Uman Suherman, pada hari pertama. Kemudian Kabid GTK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Dr Firman Oktora dan satu pemateri eksternal lainnya pada hari kedua.

Baca Juga:Mohon Izin, Pak Wali Kota Tasikmalaya Daftar Itu Mulai Beredar!Adegan Drama Pemkot Tasik!

Kepala SMAN 1 Tasikmalaya, Dr H Yonandi SSi MT, menilai guru harus mampu menghadirkan suasana sekolah yang memberi rasa aman, nyaman, dan penuh pendampingan layaknya lingkungan keluarga.

“Karena sekolah ini adalah rumah kedua. Jadi setiap awal tahun ajaran baru terutama kelas 10 mereka dianggap bayi yang baru lahir. Sehingga ada akad dengan orang tuanya disimpan dititipan ke sekolah. Dan maka kami menjadi orang tua kedua bagi anak tersebut,” ujarnya.

Pandangan tersebut menjadi dasar sekolah dalam membangun pola pendidikan yang menempatkan relasi guru dan siswa lebih dekat serta penuh tanggung jawab moral. Dalam konsep itu, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari tumbuhnya karakter melalui interaksi sehari-hari.

Karena itu, Yonandi menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak bisa hanya berhenti pada instruksi lisan. Guru, menurutnya, harus hadir sebagai figur yang memberi teladan nyata dalam tindakan.

“Guru tidak hanya menyuruh untuk ‘nak harus berbuat baik, nak harus begini begitu’, tidak. Tidak cukup begitu. Tapi guru pun harus memberikan keteladanan. Contoh,” katanya.

Untuk memperkuat peran tersebut, workshop menghadirkan berbagai materi strategis, mulai dari pengelolaan kelas, pendampingan potensi siswa, penguatan psikologis guru, hingga adaptasi terhadap perkembangan teknologi pendidikan. Seluruh materi diarahkan agar guru memiliki visi yang sama dalam memberikan pelayanan pendidikan yang utuh.

0 Komentar