Solusi Agar Sampah di Kota Tasikmalaya Tak Menumpuk Dimulai dari Dapur Warga

cara mengolah sampah rumah tangga
edukasi pengelolaan sampah di Rumah Eco Enzyme dan Kompos milik Deviani, di Jalan Kapten Naseh, Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes. Ayu Sabrina / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Di tengah tumpukan persoalan sampah yang tak kunjung rampung di Kota Tasikmalaya, solusi justru lahir dari tempat paling sederhana: dapur rumah tangga.

Bukan program megah berbalut seremoni, edukasi pengelolaan sampah justru digelar di Rumah Eco Enzyme dan Kompos milik Deviani, di Jalan Kapten Naseh, Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes.

Di ruang sederhana itu, warga diajak membongkar cara pandang lama—bahwa sampah bukan sekadar dibuang, tapi bisa diolah dan “dihidupkan” kembali.

Baca Juga:Dapur MBG di Kota Tasikmalaya Ramai Beroperasi, Izin Masih Jadi “Cerita Belakang”Tol Getaci Sepi Investor, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Angkat Bicara 

Kegiatan ini berlangsung lewat kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya.

Pendekatannya pun tak muluk-muluk. Bukan teori panjang yang berujung lupa, melainkan praktik langsung yang bisa dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Peserta diajarkan memilah sampah sejak dari sumbernya. Limbah organik diolah menjadi kompos dan eco enzyme, sementara sampah anorganik diarahkan ke bank sampah.

Sisanya? Hanya residu—yang jumlahnya seharusnya kian menyusut jika kesadaran benar-benar tumbuh.

Deviani, atau akrab disapa Devi, menjelaskan bahwa kunci dari eco enzyme justru ada pada hal sepele yang sering diabaikan: bahan baku.

“Limbah organik harus segar, dicuci bersih, baru difermentasi. Kalau sudah busuk, lebih baik dijadikan kompos saja,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Ia menambahkan, proses fermentasi eco enzyme memakan waktu hingga tiga bulan.

Baca Juga:PPP Kota Tasikmalaya Tegaskan Perubahan SK PAC Bukan karena “Meninggal”Khansa Salsabilla Tembus Top 24 The Icon Indonesia, DPRD Dorong Dukungan Pemkot Tasikmalaya

Namun hasilnya tak sekadar cairan biasa—melainkan produk multifungsi yang bisa digunakan sebagai pembersih alami, hingga dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.

Di sisi lain, limbah yang tak layak difermentasi tetap tak dibiarkan sia-sia. Semuanya diarahkan menjadi kompos.

Sebuah pendekatan yang, jika dipikir-pikir, jauh lebih masuk akal dibanding kebiasaan lama: campur, angkut, buang, lalu lupa.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kota Tasikmalaya, Feri Arif Maulana, menegaskan bahwa persoalan sampah kota sejatinya bisa ditekan dari hulu—yakni rumah tangga.

“Mayoritas sampah itu organik dan anorganik. Organik bisa jadi kompos, eco enzyme, atau maggot. Anorganik bisa ke bank sampah. Yang dibuang seharusnya tinggal residu,” tuturnya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi tamparan halus: selama ini, bukan sampahnya yang terlalu banyak, tapi cara mengelolanya yang masih serampangan.

0 Komentar