Kegiatan ini membuktikan, edukasi lingkungan tak harus selalu hadir dalam forum besar dengan spanduk panjang dan sambutan berlapis.
Justru dari ruang kecil, perubahan bisa tumbuh lebih jujur—dan, barangkali, lebih bertahan lama.
Di tengah produksi sampah perkotaan yang terus meningkat, pendekatan berbasis praktik seperti ini menjadi oase.
Baca Juga:Dapur MBG di Kota Tasikmalaya Ramai Beroperasi, Izin Masih Jadi “Cerita Belakang”Tol Getaci Sepi Investor, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Angkat Bicara
Bukan hanya ramah lingkungan, tapi juga memberdayakan warga agar tak lagi sekadar jadi “penonton” dalam urusan sampahnya sendiri. (ayu sabrina barokah)
