Kasus Pertamax Oplosan: Konsumen Kecewa, Penjualan Anjlok

pengsian bahan bakar jenis pertamax
Warga mengisi BBM di salah satu SPBU di Kota Tasikmalaya pada Senin (3/3/2025). (istimewa)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kasus korupsi tata kelola minyak mentah dan kilang di tubuh Pertamina Patra Niaga memancing kemarahan masyarakat.

Apalagi dalam kasus ini terungkap bahwa BBM jenis Pertamax yang selama ini dibeli warga ternyata tidak ada beda dengan pertalite, sebab RON 92 yang dijual ternyata adalah RON 92 yang telah dicampur RON 90 aliat pertalite.

Warganet menyebutnya sebagai “pertalite yang tidak perlu antre” –untuk menggambarkan pembeli Pertamax yang biasanya lebih sedikit—di SPBU.

Baca Juga:Malu Perusahaan Negara Tercoreng, Direktur Utama Pertamina Persero Minta Maaf kepada Rakyat IndonesiaPenggemar Kripto Bersiap Pesta Pora! Harga Bitcoin Hari Ini Mulai Hijau, Tanda-Tanda Pembalikan Tren?

Masyarakat pun melontarkan kekecewaan lantaran bahan bakar yang selama ini dianggap memiliki kualitas bagus nyatanya tak beda dengan yang disubsidi pemerintah, padahal harganya lebih mahal.

Seperti diungkapkan Meli (32) yang mengaku kesal dengan kasus Pertamax oplosan. Menurutnya langkahnya memilih BBM non subsidi malah dimanfaatkan oleh pejabat korup di Pertamina.

“Jadi untuk sementara saya pindah ke Pertalite, bukan karena tidak mampu, tapi karena kecewa,” ungkap warga Cibeureum itu, Minggu 2 Maret 2025.

Beda halnyanya dengan Rizal (35), dia memilih untuk menaikan jenis BBM yang digunakan pasca munculnya kasus Pertamax oplosan ini.

Bukan hanya untuk menjaga kondisi kendaraannya, namun demi konsistensinya untuk tidak menggunakan BBM bersubsidi.

“Tetap pakai Pertamax sih, paling kalau ada duit coba di Pertamax turbo,” imbuhnya.

Demikian dengan Rizki (27), seorang pengendara asal Ciamis. Dia mengaku kecewa dengan adanya kasus Pertamax dioplos.

Baca Juga:Harga Bitcoin Hari Ini Menguat Setelah Anjlok ke Rp1,29 M, Sinyal Rebound?Beranikah Viman-Diky Tolak Pembelian Mobil Dinas yang Mencapai Rp 1,8 Miliar?

Niatna membeli pertamax adalah agar pembakaran mesin menjadi lebih baik dan mesin tidak mudah rusak.

“Saya sebagai konsumen tertipu, beli Pertamax malah dapatnya Pertalite,” katanya.

Meskipun tidak ada kendala pada mesin motornya, namun ia merasa tarikan kendaraan lebih berat, sama dengan saat menggunakan Pertalite.

“Dua minggu pernah diservis motor, tidak ada kendala di mesin, tetapi hanya tarikan berat saja, sehingga kurang nyaman dibawa seperti menggunakan Pertalite,” ujarnya.

Akibat isu tersebut, Rizki kini beralih ke Pertamax Turbo agar mesin motornya tetap terjaga.

Menurutnya menaikan standar babahan bakar ke Pertamax Turbo yang memiliki oktan 95 adalah pilihan terbaik untuk menjaga performa kendaraan.

0 Komentar