“Sementara saat ini menggunakan Pertamax Turbo lebih enteng tarikannya,” katanya.
Kondisi serupa dirasakan oleh seorang pengendara asal Bandung yang kini memilih bahan bakar dengan RON 95 untuk menghindari risiko bahan bakar oplosan.
“Semenjak adanya kasus Pertamax dioplos, saya belum berani ke Pertamax RON 92, jadi beralih ke RON 95. Ternyata jauh perbedaan, RON 95 lebih irit dan tarikannya halus,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa selisih harga antara Pertamax RON 92 dan RON 95 tidak terlalu signifikan, hanya sekitar Rp800 per liter.
Baca Juga:Malu Perusahaan Negara Tercoreng, Direktur Utama Pertamina Persero Minta Maaf kepada Rakyat IndonesiaPenggemar Kripto Bersiap Pesta Pora! Harga Bitcoin Hari Ini Mulai Hijau, Tanda-Tanda Pembalikan Tren?
“Kalau Pertamax RON 92 kan per liter Rp 13.700, tetapi RON 95 per liter Rp14.900,,” katanya.
Menanggapi isu ini, Wakil Pengawas SPBU Cikoneng, Aip Saifullah, mengakui bahwa munculnya dugaan pengoplosan Pertamax dengan Pertalite menyebabkan penurunan kepercayaan konsumen.
“Karena konsumen berpikir sama ini antara Pertalite dan Pertamax RON 92. Karena munculnya isu Pertamax dicampur dengan Pertalite,” ujarnya.
Ia menambahkan, akibat isu tersebut, jumlah pembelian Pertamax di tempatnya merosot signifikan.
“Sebab biasa per shift untuk menghabiskan 2 ton BBM, semenjak adanya isu Pertamax oplosan turun 500 liter,” katanya.
Untuk mengembalikan kepercayaan konsumen, pihak SPBU terus memberikan informasi bahwa BBM yang dijual aman untuk kendaraan. Mereka juga telah melakukan berbagai langkah untuk memastikan kualitas bahan bakar tetap terjaga.
“Setiap pagi kita pengecekan density, sehingga kita mengetahui kualitas oktan dan BBM pun ditampilkan dengan tabung kaca, sehingga konsumen bisa melihat warnanya,” ujarnya.
Baca Juga:Harga Bitcoin Hari Ini Menguat Setelah Anjlok ke Rp1,29 M, Sinyal Rebound?Beranikah Viman-Diky Tolak Pembelian Mobil Dinas yang Mencapai Rp 1,8 Miliar?
Sementara di Garut, pembeli Pertamax di salah satu SPBU, Anggana Mulia Karsa, mengungkapkan kekecewaannya terhadap Pertamina atas dugaan Pertamax oplosan.
“Mendengar pemberitaan seperti ini sangat sangat kecewa ya saya yang merawat agar mesin motor baik eh dikecewakan dengan RON yang tidak sesuai,” ucapnya.
Angga mengaku pengguna pertamax sejati. Ia tak pernah menggunakan bahan bakar beroktan lebih rendah dari 92 untuk kendaraan pribadinya.
Setelah mendengar informasi Pertamax dioplos, Angga mau tidak mau tetap membelinya sebab tak ada SPBU lain kecuali Pertamina di Garut.
“Kalau untuk pindah enggaknya, enggak ya karena untuk di Garut tidak ada lagi selain pertamina,” lanjutnya.
