BERJUANG MELAWAN LUPA

BERJUANG MELAWAN LUPA
0 Komentar

Perih juga, mendengar pernyataan H Hadian. Namun itu fakta yang ada di masyarakat. Ketika aku berharap pemerintah punya kepedulian tentang hal ini. Harapanku tidak muluk-muluk. Hanya pengakuan dari pemerintah atas kiprah Hj Umayah, berupa apa pun pengakuan itu, untuk formal sejarah itu sendiri. Bahkan secarik kertas pun bagiku, sudah cukup. Untuk menutup segala kesimpangsiuran selama ini.

Untuk permintaan yang kuajukan, Kang H Ferdiansyah memberi arahan yang harus dilakukan untuk mendapatkannya. Antara lain, dibicarakan dan didiskusikan. Dan itu harus terus menerus. Ditulis secara permanen dalam sebuah buku. Bisa biografi atau apapun, yang penting ada tulisan sejarah.

Narasi HjUmayah terus diasah dan diolah. Lewat berbagai seminar dan diskusi di hotel dan beberapa tempat yang menyelenggarakan diskusi dan seminar, yang difasilitasi Dinas Perdagangan (bordir/ekonomi) atau event yang digagas dan difasilitasi oleh Dinas Pariwisata dan Budaya (budaya dan seni). Baik Nasional maupun tingkat lokal.

Baca Juga:Lalin di HZ Belum TerpetakanOknum TNI Dilarang Membekingi

Pada tahun 2017, aku dipercaya menjadi pembicara dalam sebuah Seminar Nasional yang dihelat oleh Kementerian Perdagangan dan Industri di Hotel Harmoni Jalan Tawang Kota Tasikmalaya. Mewakili pembicara dari Bordir. Demi pengakuan Hj Umayah, maka tema yang kuangkat adalah menggali ”Spirit Umayah Di Abad Digital”. Tanpa makalah, aku ngacapruk. Inti dari visi yang kupasang, bagaimana mengangkat Hj Umayah ke permukaan agar sampai kepada orang tepat untuk diapresiasi kepeloporannya. Saat itu bersama H. Wawan Gobras perwakilan dari Kelom Geulis, Ir Sabar Situmorang, pengusaha muda dari Bandung, pemilik puluhan destro di Bandung dan Jakarta, satu lagi pembicara dari Jakarta, seorang desainer gaun pengantin internasional, yang kerap berpameran di Timur Tengah.

Sekali waktu ada undangan untuk mengikuti Musrenbang tingkat sektoral. Dengan tiket seniman, aku datang ke Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya. Sebagai peserta, sebagai seniman idealnya aku mengangkat persoalan kesenian dan segala problematiknya yang terjadi di Tasikmalaya. Aku lebih tertarik dengan persoalan Hj Umayah dengan kiprah dan kepeloporannya. Sekali lagi aku tegaskan tentang pentingnya pengakuan pemerintah sebagai bukti legal atas sejarah bordir Hj Umayah. Targetku bukan jawaban saat itu. Ini kulakukan sebagai sebuah peringatan untuk dicatat dan ditindak lanjuti kelak.

0 Komentar