Cegah Stunting, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Kenalkan Puding Ikan Mujair Tinggi Protein

puding ikan mujair untuk cegah stunting
Tim pengabdian masyarakat Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya saat mendemonstrasikan pengolahan puding ikan mujair, Jumat (9/10/2026). (Fitriah Widayanti/radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Upaya mencegah stunting pada anak balita tidak cukup hanya dengan memberikan edukasi tentang gizi seimbang. Keluarga juga perlu didorong agar mampu mengolah bahan pangan lokal menjadi makanan bergizi yang menarik bagi anak.

Pendekatan itu dilakukan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya kepada para ibu dan kader posyandu melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Kelurahan Nagarasari, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jumat (9/10/2026).

Salah satu inovasi yang diperkenalkan ialah puding ikan mujair yang dipadukan dengan tepung kacang hijau sebagai alternatif camilan tinggi protein bagi anak.

Baca Juga:Pramuka Tasikmalaya Tingkatkan Kapasitas Kader Protokol MudaMahasiswa UMB Seru-Seruan Main "Kaulinan" Tradisional

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya, Ima Karimah MSi, mengatakan, inovasi tersebut berangkat dari tantangan pemenuhan gizi anak, terutama dalam mengenalkan pangan sumber protein hewani. Menurutnya, ikan yang disajikan dalam bentuk utuh tidak selalu disukai anak sehingga diperlukan alternatif olahan yang lebih menarik dan inovatif.

“Kita coba menciptakan inovasi camilan yang disukai anak-anak, tetapi tetap sehat dan tinggi protein. Salah satunya puding karena biasanya anak-anak suka. Ikan mujair juga mudah diakses dan dibudidayakan di Tasikmalaya,” ujarnya.

Puding tersebut mengombinasikan ikan mujair sebagai sumber protein hewani dengan tepung kacang hijau yang mengandung protein nabati. Pengolahan dalam bentuk camilan, kata Ima, diharapkan menjadi alternatif bagi orang tua untuk mengenalkan ikan kepada anak tanpa harus selalu menyajikannya dalam bentuk utuh.

Ima juga mengungkapkan, produk tersebut sebelumnya telah dikembangkan melalui kegiatan praktikum dan penelitian, kemudian diujicobakan kepada anak-anak. Hasil uji coba, menurutnya, menunjukkan produk tersebut disukai karena tidak menimbulkan aroma amis yang kuat.

Selain memperkenalkan inovasi makanan, tim pengabdian masyarakat Poltekkes Kemenkes juga memberikan edukasi gizi seimbang bagi ibu hamil, menyusui, dan yang memiliki balita, serta melakukan demonstrasi pembuatan makanan pendamping ASI (MPASI).

Ima menuturkan, praktik pengolahan makanan diberikan agar peserta tidak hanya memahami pentingnya asupan bergizi, tetapi juga memiliki keterampilan menyiapkan menu sehat bagi anak.

“Kita ingin masyarakat tidak hanya mendapatkan edukasi, tetapi juga terampil membuat contoh menu sehat untuk anak-anaknya,” tuturnya.

0 Komentar