TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Riuh rendah gelak tawa, gemuruh sorak-sorai, dan tepuk tangan bergemuruh di halaman kampus Universitas Mayasari Bakti (UMB) yang terletak di Jalan Tamansari No. 210, Kota Tasikmalaya, Kamis (8/10/2026).
Halaman kampus hijau UMB mendadak berubah fungsi menjadi sebuah arena besar pelestarian kebudayaan. Momen langka ini menjadi penanda monumental ditutupnya seluruh rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) atau yang di internal kampus lebih dikenal dengan istilah PRASASTI (Pengenalan dan Orientasi Mahasiswa Universitas Mayasari Bakti) Tahun Akademik 2026/2027.
Hari terakhir PRASASTI diisi dengan sebuah kegiatan yang tidak biasa, penuh warna, edukatif, namun tetap dibungkus secara santai dan rekreatif, melalui festival permainan tradisional.
Baca Juga:Tanam 7 Pot Ganja di Tengah Kebun Cabai, 2 Warga Rajapolah Diciduk PolisiSekda Kota Tasikmalaya Sebut Pengangkatan Dewas Sudah Sesuai Aturan
Sebanyak 15 kelompok mahasiswa baru unjuk gigi, merakit properti, menampilkan, sekaligus memainkan belasan jenis permainan tradisional khas Jawa Barat yang kini posisinya sudah mulai terancam punah akibat gempuran era digitalisasi.
Sejak pagi hari, mahasiswa baru yang telah dibagi ke dalam kelompok-kelompok tampak sibuk menyiapkan berbagai perlengkapan. Ada yang membawa potongan bambu, buah kemiri, layangan serta berbagai alat permainan tradisional. Mereka akan tampil dalam acara festival permaianan trdisional. Rektor Universitas Mayasari Bakti, Dr. Yusuf Abdullah, S.E., M.M., menuturkan melalui festival permaianan tradisional merupakan salah satu cara untuk melestarikan budaya sunda, di era teknologi yang semakin canggih.
“Kita sedang berada di era di mana teknologi berkembang dalam hitungan detik. Mahasiswa Universitas Mayasari Bakti harus menjadi garda terdepan dalam menguasai teknologi masa kini. Namun, ada satu catatan tebal yang tidak boleh dilupakan, modernisasi bukan berarti kita harus melupakan budaya kita, tetapi bagaimana anak-anak kita tetap mencintai budaya tradisional. Mahasiswa sejati harus tetap kokoh berdiri menjaga dan melestarikan akar budaya sendiri,” ungkap Yusuf.
Pihak kampus menyadari bahwa menanamkan rasa cinta tanah air dan budaya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya melalui festival yang digelar bersama mahasiswa baru. Oleh karena itu, Festival Permainan Tradisional ini dihadirkan sebagai laboratorium sosial nyata, tempat para mahasiswa baru bisa saling berinteraksi secara fisik, membangun kemitraan, mengasah kepekaan sosial, sekaligus merasakan langsung warisan tak benda dari leluhur mereka dengan cara yang sangat menyenangkan.
