Mahasiswa UMB Seru-Seruan Main "Kaulinan" Tradisional

festival permainan tradisional UMB
Mahasiswa baru UMB memainkan permainan tradisional di halaman kampus dalam penutupan PRASASTI 2026/2027, Kamis, 8 Oktober 2026. (Dok. Universitas Mayasari Bakti)
0 Komentar

Gasing, di atas permukaan tanah yang datar, gasing-gasing kayu tradisional berputar dengan suara dengungan yang khas. Mahasiswa belajar bagaimana teknik melilit tali nilon dengan erat dan melempar gasing dengan sentakan yang pas agar gasing dapat berputar seimbang dalam waktu lama. Bekles, permainan bola bekel tradisional ini menuntut koordinasi visual dan motorik yang sangat tinggi. Para peserta harus melempar bola karet setinggi mata sembari dengan cepat mengubah posisi biji-biji kuningan di bawahnya sebelum bola kembali memantul ke lantai. Jajangkung, berjalan dengan egrang bambu ternyata menjadi tantangan terberat bagi sebagian besar mahasiswa baru. Banyak di antara mereka yang belum pernah mencobanya.

Paciwit Lutung, sambil melantunkan bait-bait lagu tradisional sunda, para peserta saling mencubit punggung tangan temannya secara bertahap ke atas. Permainan sederhana ini terbukti sangat efektif mencairkan suasana dan menghapus sekat canggung antar-mahasiswa yang baru saling kenal. Oray-orayan, barisan panjang seperti ular terbentuk rapi di tengah lapangan terbuka. Mahasiswa saling memegang pundak rekan di depannya, meliuk-liuk menghindari sergapan dua orang mahasiswa yang bertindak sebagai gerbang perangkap, menciptakan harmoni gerak yang indah. Gobag Sodor, dinamika fisik tingkat tinggi terjadi di pos gobag sodor. Strategi tim benar-benar diuji di sini. Tim penyerang harus jeli melihat celah kelengahan tim penjaga garis untuk bisa menyeberang kotak demi kotak tanpa tersentuh sedikit pun, memicu adrenalin sekaligus sorak dukungan dari tepi lapangan.

Pletok, bunyi pletok! yang nyaring terdengar berulang-ulang dari sudut lapangan. Mahasiswa memanfaatkan bambu kecil berdiameter sempit dengan peluru yang terbuat dari kertas koran basah, membangkitkan kembali memori kolektif mainan masa kecil yang ramah lingkungan dan aman. Ucing Meungpeun, sebagai kelompok pamungkas, permainan petak umpet dengan mata tertutup kain ini menuntut kepekaan indra pendengaran. Sang penjaga harus menebak arah pergerakan teman-temannya hanya berdasarkan suara langkah kaki atau bisikan kecil di sekitarnya.

Baca Juga:Tanam 7 Pot Ganja di Tengah Kebun Cabai, 2 Warga Rajapolah Diciduk PolisiSekda Kota Tasikmalaya Sebut Pengangkatan Dewas Sudah Sesuai Aturan

Ketua Pelaksana PRASASTI Tahun Akademik 2026/2027, Edi Heryadi, S.T., M.T., menuturkan selaian festival permainan tradisional di hari terakhir mahasiswa diajak untuk berolahraga bersama dan pemakaian jas almamater. Setiap permainan tradisional atau kaulinan barudak, kata Edi, memiliki muatan nilai-nilai pembentukan karakter (character building) yang luar biasa kaya. Nilai-nilai seperti gotong royong tercermin dalam permainan tarumpah dan Oray-orayan. Ada nilai kejujuran dan sportivitas diajarkan dalam Ucing Sumput dan Gobag Sodor, sedangkan ketahanan mental serta fokus diajarkan melalui Jajangkung dan Bekles.

0 Komentar