Politik Senyum Arief Arseha!

Moch. Arief Arseha
Moch. Arief Arseha, Ketua DPD Golkar Kabupaten Tasikmalaya.
0 Komentar

Sekarang Arief sudah berada di kursi itu. Kursi Ketua DPD Golkar Kabupaten Tasikmalaya. Kursi politik memang aneh.

Dari jauh terlihat empuk. Begitu diduduki, baru terasa durinya.

Ketua partai bukan sekadar memakai jas. Bukan sekadar memimpin rapat. Bukan sekadar menghadiri Musda. Ia harus menjaga pohon beringin agar tetap teduh.

Padahal beringin itu pohon yang besar. Cabangnya banyak. Akarnya panjang. Daunnya rimbun. Dan setiap cabang punya arah matahari sendiri.

Baca Juga:Jalan Panjang Nurul Awalin!Soal Guru Terseret Kasus Unsoed, Kepala Sekolah Sebut Tak Ada Penggeledahan, WY Berstatus Saksi

Itulah politik. Semua orang ingin tumbuh. Tetapi tidak semua orang ingin berada di bawah bayangan orang lain. Di situlah seorang ketua diuji. Bukan ketika semua orang tersenyum. Tetapi ketika ada yang berhenti tersenyum.

Arief punya satu modal yang saya lihat malam itu: Ia nyaman berbicara. Dan ia murah senyum. Kelihatannya sederhana. Padahal tidak. Senyum adalah bahasa politik yang paling murah. Tidak perlu anggaran. Tidak perlu tender. Tidak perlu perubahan APBD.

Tetapi dampaknya bisa panjang. Orang yang disenyumi merasa dihargai. Orang yang dihargai lebih mudah diajak bicara. Dan orang yang diajak bicara lebih mungkin mau mendengarkan.

Tentu saja, senyum saja tidak cukup. Politik bukan lomba fotografi. Yang diperlukan akhirnya adalah keputusan. Keberanian. Konsistensi.

Dan kemampuan membuat banyak kepentingan duduk dalam satu meja tanpa saling menendang di bawah meja. Itu pekerjaan ketua.

Saya kembali pada arti namanya. Mochamad: terpuji. Arief: bijaksana. Arseha: bahagia dan sejahtera. Nama itu seperti pesan dari orang tua kepada anak.

Menjadi orang baik. Menjadi orang bijak. Dan kalau bisa, membuat orang lain ikut sejahtera. Politik kemudian datang membawa satu pertanyaan: Apakah doa yang tertulis dalam nama bisa diwujudkan dalam jabatan?

Baca Juga:Dosen Unsil Kembangkan Metode Menulis Bahasa Inggris untuk Siswa Sekolah Dasar di SDN 01 PurbaratuSoal Gaji PPPK Berpotensi Dialihkan ke APBN, Pemkot Tasikmalaya Tunggu Kepastian

Jawabannya tidak ada di baliho. Tidak ada di Musda. Tidak ada di tepuk tangan. Jawabannya baru akan terlihat setelah lima tahun berjalan.

Sebab jabatan adalah buku. Pelantikan baru halaman pertama. Dan sejarah tidak pernah membaca halaman pertama saja. Ia membaca halaman terakhir.

Malam itu saya bertemu Arief ketika ia belum menjadi ketua. Sekarang ia sudah menjadi ketua. Saya jadi berpikir: Mungkin malam itu bukan pertemuan biasa.

0 Komentar