Suara dihitung dengan manusia. Dan manusia tidak selalu bisa diprediksi. Arief juga bukan hanya hidup di dalam struktur partai.
Ia dipercaya memimpin PDK Kosgoro 1957 Kabupaten Tasikmalaya periode 2024-2029 secara aklamasi. Organisasi itu merupakan salah satu bagian penting dalam sejarah keluarga besar Golkar.
Jadi kalau ada yang mengatakan Arief tiba-tiba muncul menjelang Musda, mungkin perlu melihat kaca spion. Ia sudah ada di belakang. Cukup lama. Hanya saja tidak semua orang suka berdiri di depan kamera.
Baca Juga:Jalan Panjang Nurul Awalin!Soal Guru Terseret Kasus Unsoed, Kepala Sekolah Sebut Tak Ada Penggeledahan, WY Berstatus Saksi
Ada yang menarik dari namanya. Mochamad Arief Arseha. Nama itu panjang. Seperti biodata politisi. Tapi maknanya justru sederhana. Mochamad merujuk pada Muhammad—yang terpuji. Arief berasal dari kata arif—bijaksana, memahami.
Sedangkan Arseha, sebagai nama kreasi keluarga, bisa dimaknai dengan doa tentang kebahagiaan, kesehatan dan kesejahteraan.
Kalau semua makna itu digabung, namanya seperti sebuah visi-misi lima tahun. Terpuji. Bijaksana. Membawa kebahagiaan dan kesejahteraan. Lengkap.
Tinggal satu masalah: Nama boleh menjadi doa. Tetapi jabatan adalah ujian. Dan jabatan ketua partai adalah ujian yang lebih panjang. Lima tahun. 2026 sampai 2031.
Lima tahun itu cukup lama untuk membuat rambut hitam menjadi putih. Cukup lama untuk membuat teman menjadi lawan. Lawan menjadi teman. Dan teman menjadi orang yang tiba-tiba tidak membalas pesan WhatsApp.
Arief sendiri tampaknya memahami satu hal penting dalam politik: Tidak semua kemenangan harus dirayakan dengan suara keras.
Ada kemenangan yang cukup disambut senyum. Mungkin karena itulah saya teringat wajahnya malam itu. Kemeja putih.
Celana hitam. Rambut baru dicukur.
Baca Juga:Dosen Unsil Kembangkan Metode Menulis Bahasa Inggris untuk Siswa Sekolah Dasar di SDN 01 PurbaratuSoal Gaji PPPK Berpotensi Dialihkan ke APBN, Pemkot Tasikmalaya Tunggu Kepastian
Senyum khas Sunda. Tidak ada pidato. Tidak ada spanduk. Tidak ada baliho bertuliskan: “ARIEF MENUJU KETUA.”Hanya obrolan tentang Tasikmalaya. Tentang banyak hal. Tentang daerah. Tentang politik. Tentang kehidupan.
Saya tidak tahu apakah malam itu ia sedang menghitung masa depan. Saya juga tidak bertanya. Sebab kalau bertanya kepada politisi: “Pak, akan maju jadi ketua?”. Jawabannya sering aman. “Lihat saja nanti.”
Kalimat lihat saja nanti dalam politik bisa berarti dua hal. Benar-benar belum tahu. Atau sudah tahu, tetapi kita yang belum boleh tahu.
