Namun, Sabatini mempertanyakan siapa yang bisa memaksimalkan kreasi tersebut.
“Kepada siapa? Kepada Kolo Muani yang tidak terlihat, kepada Woltemade yang masih harus dilihat lagi setelah 15 menit penampilannya malam ini. Selain itu, sejujurnya, hanya sedikit inisiatif yang terlihat,” bebernya.
Sabatini juga menyoroti proses terciptanya gol Milan.
Menurutnya, ada situasi yang patut diperhatikan sebelum Cisse mencetak gol. Ia menyinggung kemungkinan pelanggaran De Winter terhadap Kolo Muani sebelum rangkaian serangan Milan berlanjut.
“Gol Milan datang dari sebuah aksi yang tampaknya diawali dengan injakan kaki yang cukup keras, dari De Winter terhadap Kolo Muani, mungkin bahkan layak diperiksa VAR,” ulas Sabatini.
Baca Juga:Daftar Pemain Terburuk Juventus dan AC Milan Usai Bermain Imbang 1-1Daftar Tiga Pemain Terbaik AC Milan saat Ditahan Imbang Juventus 1-1
Setelah itu, Locatelli dan Kalulu dinilai melakukan kesalahan dalam mengantisipasi pergerakan Cisse.
Pemain muda Milan tersebut kemudian memanfaatkan situasi itu dengan sangat baik. Ia mencetak gol melalui tembakan pertamanya yang tepat sasaran.
Sabatini membandingkan situasi tersebut dengan apa yang sebelumnya dialami Di Gregorio. Kali ini, Vicario juga harus kebobolan dari tembakan tepat sasaran pertama Milan.
Pada akhirnya, Sabatini menilai Milan pulang dengan dua perasaan berbeda.
Di satu sisi, Rossoneri bisa puas karena berhasil membawa pulang satu poin dari Allianz Stadium.
Namun di sisi lain, ada rasa kecewa karena kemenangan yang sudah berada di depan mata akhirnya lepas pada masa injury time.
“Milan pulang dengan kepuasan atas hasilnya, tetapi juga ketidakpuasan karena hasil imbang itu datang tepat pada akhirnya. Dengan Gatti, seorang penyerang tengah,” tutup Sabatini.
Gol Gatti memang menjadi penyelamat Juventus sekaligus membuat Milan harus menerima hasil imbang.
Baca Juga:Fiorentina Pecat Fabio Grosso, Thiago Motta dan Raffaele Palladino Jadi Calon PenggantiSarri Waspadai Lini Serang AS Roma: Malen Seperti Binatang Buas di Kotak Penalti
Bagi Rossoneri, satu poin di Turin tetap bernilai penting. Namun, cara mereka kehilangan kemenangan menjadi pekerjaan rumah bagi Ruben Amorim, terutama dalam menjaga keunggulan ketika pertandingan memasuki menit-menit terakhir.
