TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dugaan aksi bullying terhadap seorang siswa SMA di Tasikmalaya mendapat sorotan keras dari Asosiasi Muda Institute (AMI).
Organisasi tersebut menilai dugaan kekerasan yang dilakukan secara berkelompok itu tidak bisa lagi dianggap sebatas kenakalan remaja.
Ketua AMI, Jausan Kamil menyebut dugaan penganiayaan tersebut sebagai persoalan serius yang harus diusut secara menyeluruh.
Baca Juga:Cegah Aksi Kelompok Bermotor, Tim Maung Galunggung Patroli Titik Rawan Kota TasikmalayaKemarau Belum Usai, SDN 2 Kersanagara Kota Tasikmalaya Ajak Siswa Menengadah Lewat Salat Istisqa
Terlebih, korban disebut mengalami pemukulan dan penamparan secara bergiliran oleh puluhan orang.
“Membaca fakta bahwa seorang siswa di Tasikmalaya harus babak belur dipukul dan ditampar oleh puluhan orang secara bergiliran membuat kita muak,” kata Jausan dalam keterangannya, Minggu (27/9/2026).
Menurut dia, jika dugaan tersebut terbukti, tindakan kekerasan secara berkelompok itu menunjukkan persoalan yang jauh lebih serius daripada sekadar perkelahian antarpelajar.
“Ini bukan lagi kenakalan remaja yang bisa diselesaikan lewat secangkir kopi di ruang guru atau selembar surat perjanjian damai. Ini adalah aksi premanisme berkedok seragam sekolah yang biadab dan terstruktur,” ujarnya.
Jausan menilai kasus tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama, mulai dari lingkungan keluarga hingga sekolah.
Ia mempertanyakan pola pengasuhan ketika anak-anak bisa terlibat dalam kekerasan terhadap teman sebaya secara berkelompok.
“Ketika anak-anak tumbuh menjadi gerombolan penindas yang tega menghajar sesamanya secara massal, ada kegagalan fundamental di rumah dalam mendidik anak. Nilai kemanusiaan dan empati dasar gagal ditanamkan sejak dini,” terangnya.
Baca Juga:Roket Indonesia Gandeng Everpro, Layanan Kurir Instan JNE Bidik Penguatan UMKM lewat TeknologiTruk Pengangkut Bondek Tabrak Warung di Tasikmalaya, Kernet Terpental ke Sungai
AMI juga mendorong penguatan peran wali kelas dan guru bimbingan konseling (BK).
Menurut Jausan, wali kelas dan guru BK tidak cukup hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi harus aktif membaca kondisi psikososial dan dinamika pergaulan siswa.
Mereka, kata dia, perlu mengetahui karakter serta pola pergaulan siswa sehingga potensi perilaku menyimpang maupun kekerasan kelompok dapat dideteksi lebih awal.
“Wali kelas seharusnya bisa memahami setiap antropologi siswanya. Sehingga dapat terdeteksi bilamana ada siswa yang memiliki indikasi perilaku menyimpang,” tegasnya.
Selain pencegahan, Jausan meminta dugaan kasus tersebut diproses secara tegas melalui mekanisme hukum yang berlaku.
