Doli kemudian menyinggung munculnya sejumlah poros politik yang mulai memperlihatkan arah masing-masing. Salah satunya terkait Ketua Umum Projo Budi Arie yang disebutnya telah menunjukkan kesiapan politik.
“Bila beberapa waktu lalu, Budi Arie, yang mewakili satu ‘poros politik’ (Solo), sudah terang benderang menyatakan kesiapannya, sekarang kita menyaksikan satu lagi ‘poros politik’ (Cikeas) ikut memberikan sinyal yang kuat. Padahal kedua poros ini sedang bersama-sama berada ‘satu kapal’ di dalam pemerintahan,” kata dia.
Wakil Ketua Baleg DPR RI itu mengatakan Partai Golkar tidak mempermasalahkan langkah politik yang ditempuh partai lain. Menurutnya, setiap partai memiliki kewenangan untuk menentukan agenda dan sikap politiknya sendiri.
Baca Juga:DPRD Jabar Bahas PAPBD 2026, NasDem Soroti Penurunan Pendapatan hingga Rencana Utang Rp3,4 TriliunDemokrat Kabupaten Tasikmalaya Gebrak Sukarame, Gelar Lomba Rakyat Semarakkan Kemerdekaan
“Memang menjadi agak unik, bila dalam waktu dekat, salah satu ‘poros politik’ penting lain (Teuku Umar), tidak kunjung menyatakan siap bertarung pada Pilpres 2029. Buat kami, Partai Golkar, tentu kami menghormati apa yang menjadi agenda, sikap, keputusan, dan langkah setiap partai politik,” kata dia.
“Itu adalah kedaulatan dan otoritas masing-masing partai politik. Kami saat ini, hingga 2029, tetap fokus untuk membantu mensukseskan seluruh program pemerintahan Prabowo-Gibran, membantu sekuat tenaga agar rakyat bisa segera keluar dari masalah yang dihadapi,” imbuhnya.
Sebelumnya, AHY menyampaikan pandangannya mengenai perjalanan Partai Demokrat dalam politik nasional. Ia menilai pengalaman partainya yang pernah berada di pemerintahan maupun di luar pemerintahan menjadi pelajaran penting mengenai arti menjaga demokrasi.
“Partai Demokrat pernah memimpin pemerintahan dan pernah berada di luar pemerintahan. Kita pernah menang dan pernah kalah. Pengalaman itu mengajarkan bahwa demokrasi harus kita jaga dalam keadaan apa pun. Hakikatnya, pemilu adalah milik rakyat. Jangan dihalang-halangi hak rakyat untuk memilih dan untuk dipilih,” ucap AHY saat memberi sambutan pada peringatan 25 Tahun Partai Demokrat di Kantor DPP Partai Demokrat, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (5/9/2026).
AHY juga menyinggung pengalaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berlangsung selama dua periode. Menurutnya, pergantian kekuasaan setelah dua periode dapat berlangsung secara damai dan demokratis.
