BUNGURSARI, RADARTASIK.ID — Musim kemarau mulai memberi tekanan serius terhadap sektor pertanian di Kota Tasikmalaya. Ketersediaan air di sejumlah daerah irigasi (DI) terus menyusut, bahkan sebagian sudah tidak lagi mengalirkan air untuk kebutuhan persawahan.
Berdasarkan pemantauan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Tasikmalaya pada Agustus 2026, sebanyak 15 dari 29 daerah irigasi yang menjadi kewenangan Pemkot Tasikmalaya tercatat sudah tidak memiliki air di pintu pengambilan.
Sementara itu, 13 daerah irigasi lainnya mengalami penurunan debit. Kondisi tersebut membuat ketersediaan air untuk lahan pertanian semakin terbatas, terutama menghadapi Musim Tanam Ketiga (MT3).
Baca Juga:Maulid yang Menunggu Wali Kota!Audiensi di DPRD Kota Tasikmalaya, Vendor Bongkar Boroknya Parkir
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUTR Kota Tasikmalaya, Rino Isa Muharam, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian karena cakupan lahan yang bergantung pada jaringan irigasi cukup luas.
“Untuk irigasi kota ini kita mengelola 29 DI. Pemantauan pada bulan Agustus 2026, terdapat 15 daerah irigasi yang sudah tidak ada air sama sekali di pintu pengambilannya. Dan juga terdapat 13 daerah irigasi yang mulai debitnya menurun ketersediaannya,” ujar Rino, Jumat (4/9/2026).
Dari total sekitar 1.749 hektare areal persawahan yang berada dalam kewenangan pengelolaan tersebut, sebanyak 878,99 hektare telah mengalami kekeringan. Sedangkan 388,50 hektare lainnya masuk kategori terancam kekeringan.
“Ini ada beberapa luas sawah yang telah mengalami kekeringan sekitar 878,99 hektar area, dan luas sawah yang terancam mengalami kekeringan adalah 388,50 hektar area. Dari seluruhnya luas areal yang kewenangan kita 1.749 hektar area,” katanya.
Di tengah terbatasnya pasokan, Dinas PUTR berupaya mengatur distribusi air yang masih tersedia. Salah satunya dengan menerapkan sistem buka-gilir pada sejumlah pintu air.
Pengaturan tersebut dilakukan agar air yang tersisa dapat dimanfaatkan secara bergantian oleh petani di wilayah yang masih memperoleh suplai dari jaringan irigasi. “Upaya-upaya yang dilakukan untuk menanggulangi kekeringan pada DI itu, kita mencoba untuk buka gilir di pintu air. Ada beberapa yang kita kelola untuk pembukaan pintu air itu bergilir,” jelas Rino.
Koordinasi dengan Dinas Pertanian juga dilakukan untuk memastikan informasi mengenai kondisi debit air dapat diterima petani. Langkah ini dinilai penting agar petani dapat menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air di lapangan.
