RADARTASIK.ID – AS Roma mengawali Serie A 2026/2027 dengan cara yang nyaris sempurna.
Giallorossi meraih kemenangan kedua secara beruntun setelah menghajar Lecce 4-0 di Via del Mare.
Donyell Malen tampil sebagai bintang dengan mencetak dua gol, sementara dua gol lainnya disumbangkan Matias Soulé dan Rodrigo Mora.
Baca Juga:Juventus Rampungkan Negosiasi untuk Boyong Lionel Messi 2 Meter dari Jerman Siapa Omari Hutchinson? Pemain Baru AC Milan di Hari Terakhir Bursa Transfer
Kemenangan tersebut membuat Roma asuhan Gian Piero Gasperini untuk sementara memuncaki klasemen Serie A per 1 September 2026.
Roma mengoleksi enam poin dari dua pertandingan dengan selisih gol +8. Mereka mencetak delapan gol dan belum sekalipun kebobolan.
Start seperti ini tentu belum cukup untuk berbicara tentang Scudetto. Musim masih sangat panjang dan persaingan Serie A tetap terbuka.
Namun, kemenangan telak di Lecce memiliki cerita lain bagi para tifosi Roma.
Sebab, Via del Mare ternyata menyimpan kenangan manis dalam perjalanan Giallorossi menuju Scudetto.
Hampir 26 tahun lalu, Roma juga datang ke stadion yang sama dengan ambisi mengamankan tiga poin.
Pada 15 Oktober 2000, Roma asuhan Fabio Capello menghadapi Lecce dalam lanjutan Serie A.
Baca Juga:Siapa Nick Woltemade? Raksasa Tidur dari Jerman yang Ingin Diboyong Juventus di Hari Terakhir Bursa Transfer Tinggalkan Al-Hilal, Karim Benzema Gantung Sepatu?
Gabriel Omar Batistuta membuka keunggulan pada menit ke-41. Setelah jeda, Roma semakin dominan.
Damiano Tommasi menggandakan keunggulan sebelum Francesco Totti melengkapi kemenangan melalui titik putih.
Roma pun membawa pulang kemenangan meyakinkan.
Yang menarik, kemenangan tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju Scudetto.
Pada akhir musim, Roma keluar sebagai juara Serie A 2000/2001 dan mengakhiri penantian 18 tahun untuk kembali menjadi penguasa Italia.
Karena itulah, kemenangan 4-0 Roma di tempat yang sama lebih dari dua dekade kemudian terasa seperti nostalgia yang datang terlalu cepat.
Tentu saja, Gasperini belum bisa dibandingkan dengan Capello hanya karena dua pertandingan.
Namun, sejarah tersebut membuat para tifosi memiliki alasan untuk kembali mengenang salah satu era terbaik klub.
Keberhasilan Roma menjadi juara pada musim 2000/2001 tidak datang secara tiba-tiba.
Setelah melihat Lazio memenangkan Scudetto pada musim 1999/2000, Presiden Roma ketika itu, Franco Sensi, berambisi membangun skuad yang mampu mengembalikan gelar ke sisi merah-kuning ibu kota Italia.
Sejumlah pemain berkualitas pun didatangkan. Gabriel Batistuta menjadi transfer terbesar sekaligus mesin gol yang diharapkan mampu mengangkat daya gedor Roma.
