AS Roma ke Puncak Klasemen Usai Hajar Lecce 4-0: Fans Ingat Era Scudetto Zaman Capello

AS Roma
Selebrasi pemain AS Roma setelah menghajar Lecce 4-0 di Via del Mare  Foto: Tangkapan layar Instagram@officialasroma 
0 Komentar

Walter Samuel didatangkan untuk memperkuat pertahanan, sedangkan Emerson menjadi salah satu fondasi penting di lini tengah.

Capello kemudian menyatukan pemain-pemain tersebut dalam tim yang memiliki keseimbangan luar biasa.

Di belakang, Walter Samuel, Aldair, dan Jonathan Zebina berdiri di depan Francesco Antonioli.

Baca Juga:Juventus Rampungkan Negosiasi untuk Boyong Lionel Messi 2 Meter dari Jerman Siapa Omari Hutchinson? Pemain Baru AC Milan di Hari Terakhir Bursa Transfer

Di sektor sayap, Cafu dan Vincent Candela memberikan kecepatan sekaligus agresivitas.

Sementara di lini tengah, Damiano Tommasi dan Cristiano Zanetti bertugas menjaga keseimbangan permainan.

Semua fondasi tersebut kemudian memberikan ruang kepada para pemain kreatif untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Roma juga memiliki senjata mematikan di lini depan.

Francesco Totti menjadi otak permainan sekaligus simbol klub. Sang kapten beroperasi sebagai trequartista dan mencetak 13 gol di Serie A.

Di depannya ada Batistuta yang menjadi mesin gol dengan 20 gol liga.

Sementara Vincenzo Montella menjadi senjata tambahan yang tidak kalah berbahaya. Dijuluki L’Aeroplanino, Montella sering muncul sebagai pembeda ketika Roma membutuhkan gol.

Kombinasi ketiganya membuat Roma memiliki banyak cara untuk membongkar pertahanan lawan.

Namun, kekuatan tim Capello bukan hanya soal kualitas individu.

Baca Juga:Siapa Nick Woltemade? Raksasa Tidur dari Jerman yang Ingin Diboyong Juventus di Hari Terakhir Bursa Transfer Tinggalkan Al-Hilal, Karim Benzema Gantung Sepatu?

Roma memiliki keseimbangan antara pertahanan, lini tengah, dan serangan. Mereka tidak selalu bermain spektakuler, tetapi sangat efektif dalam mengelola pertandingan.

Konsistensi tersebut membuat Roma mampu bertahan di puncak klasemen hingga memasuki fase penting musim.

Salah satu bukti mentalitas mereka muncul ketika menghadapi Juventus pada pekan ke-29 di Delle Alpi.

Giallorossi berada dalam tekanan setelah tertinggal 0-2. Capello kemudian memasukkan Hidetoshi Nakata dan keputusan tersebut mengubah jalannya pertandingan.

Nakata mencetak gol indah untuk memperkecil ketertinggalan. Setelah itu, tembakan jarak jauhnya kembali memberikan masalah bagi Juventus hingga Vincenzo Montella mencetak gol penyeimbang pada menit-menit akhir.

Skor berakhir 2-2.

Bagi Roma, hasil tersebut jauh lebih berharga daripada sekadar satu poin.

Mereka berhasil mempertahankan keunggulan di puncak klasemen dan menunjukkan bahwa tim Capello memiliki mentalitas untuk bertahan dalam tekanan.

Dari sana, perjalanan menuju pertandingan terakhir semakin dekat.

Pada 17 Juni 2001, Roma akhirnya memainkan pertandingan terakhir musim tersebut dengan satu target: memastikan Scudetto di hadapan publik sendiri.

0 Komentar