Wakil Rektor I UMB, Dewanto Rosian Adhy, S.T., M.T., menjelaskan program Mitra Vokasi Unggulan bersama industri tidak serta-merta dijalankan secara bersamaan. Sebagian program telah berjalan, sebagian sedang dalam proses, dan lainnya dipersiapkan untuk diimplementasikan.
Ada tujuh program unggulan yang disiapkan melalui Mitra Vokasi. Dalam skema tersebut, UMB mengambil posisi sebagai penghubung antara perguruan tinggi, SMK dan dunia industri.
“Kita akan menghubungkan tiga entitas, yaitu perguruan tinggi dalam hal ini Universitas Mayasari Bakti melalui riset, pendidikan dan pengabdian karena kita memiliki dosen dan mahasiswa. Kemudian ada industri dengan segala kelebihan dan kekuatannya, dan kita juga punya SMK sehingga dapat bersinergi bersama-sama,” kata Dewanto.
Baca Juga:Angklung Pelajar SDN 1 Rahayu Tasikmalaya Mewarnai Peringatan Kemerdekaan Sambil Dilestarikan Pasar Cikurubuk Tasikmalaya Punya 20 Hektare, Berpeluang Jadi Pusat Distribusi Priangan Timur
Tujuh program tersebut meliputi Work Preparation, Entrepreneur Skill, Guru Kuliah Fleksibel, Kursinergi (penyelarasan kurikulum sesuai kebutuhan industri), Industrial Academy, Mobile Lab Express, serta Beasiswa Vokasi Kerja.
Menurut Dewanto, skema tersebut diharapkan tidak hanya mempertemukan lulusan dengan perusahaan, tetapi juga membuat kompetensi yang diajarkan di bangku pendidikan semakin relevan dengan kebutuhan lapangan kerja.
UMB juga tengah membangun pusat artificial intelligence (AI). Pengembangan ini dinilai penting mengingat pemanfaatan AI mulai menjadi bagian dari kebutuhan industri.
“Universitas Mayasari Bakti memiliki banyak sumber daya, juga hasil-hasil penelitian yang dapat diterapkan. Kita juga sedang membangun pusat AI, di mana saat ini literasi tentang AI juga menjadi tuntutan di beberapa industri, sehingga anak-anak kita siap menghadapi tantangan AI sebagai pengguna AI yang baik dan benar,” jelasnya.
Ketua Mitra Vokasi Industri Nusantara (MVIN) yang juga Komisaris PT Nichirin Indonesia, Jimy Kaparang, mengingatkan agar nota kesepahaman yang telah diteken tidak berhenti menjadi dokumen pelengkap acara.
Menurutnya, ukuran keberhasilan kerja sama justru berada pada tahap implementasi, terutama seberapa banyak lulusan SMK dan perguruan tinggi yang akhirnya bisa masuk ke dunia industri.
“Bukan hanya sekadar di atas kertas, akan tetapi bagaimana nanti implementasinya agar anak-anak didik dari SMK-SMK juga dari Universitas Mayasari Bakti dapat ditampung oleh perusahaan-perusahaan yang saat ini telah bekerja sama,” ujarnya.
