TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Persoalan geng motor di Kota Tasikmalaya dinilai tidak cukup diselesaikan hanya dengan pendekatan keamanan.
Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Hilman Wiranata menilai sekolah dan guru memiliki peran penting dalam mencegah keterlibatan pelajar dalam aksi yang berujung kekerasan maupun kriminalitas di jalanan.
Hilman menyoroti mayoritas anggota geng motor yang masih berstatus pelajar SMP dan SMA.
Baca Juga:Kemarau Picu Batuk Pilek, Dinkes Kota Tasikmalaya Ingatkan Warga Pakai MaskerLiterasi Keuangan Pelajar Tasikmalaya Masih Tertinggal, OJK Genjot GENIUS dari Sekolah
Menurut dia, kondisi tersebut membuat sekolah seharusnya menjadi salah satu benteng utama untuk mencegah perilaku menyimpang sejak dini.
“Yang paling besar anggota geng motor itu adalah anggota dari pelajar SMP dan SMA. Mereka secara personal pasti memiliki ketakutan oleh sekolah, oleh gurunya masing-masing,” kata Hilman, Minggu (20/9/2026).
Karena itu, dia mendorong sekolah kembali menerapkan mekanisme penghargaan dan sanksi yang jelas terhadap perilaku siswa.
Menurutnya, pembentukan karakter tidak cukup hanya dengan mengejar nilai akademik dan memastikan siswa naik kelas atau lulus.
Hilman bahkan menilai sistem pendidikan saat ini terlalu berorientasi pada produksi lulusan.
Sekolah, kata dia, jangan sampai hanya menjadi semacam “pabrik” yang mengejar jumlah kelulusan, tetapi mengabaikan kualitas moral dan mental peserta didik.
“Sekolah kita itu sudah kehilangan, bukan lagi menjadi ajang pendidikan baik secara edukatif maupun secara mental. Hari ini sekolah kita sudah menjadi pabrik,” ujarnya.
Baca Juga:Nurul Awalin Resmi Jadi Ketua Partai Golkar Kota Tasikmalaya, Target 10 Kursi di DPRD Jadi TantanganWakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra Digoda Masuk Golkar
Ia mempertanyakan minimnya mekanisme penyaringan terhadap kualitas mental, moral dan kedisiplinan siswa.
Menurut politisi PPP ini, hampir tidak pernah terdengar ada siswa yang tidak naik kelas atau tidak lulus karena persoalan perilaku.
“Mau bodoh apapun, mau senakal apapun pasti naik. Kenapa? Karena kejaran kita hanya target IPM saja, indeks pendidikan saja. Pendidikan ini mengejar itu tanpa mengedepankan kualitas moral,” katanya.
Hilman mengatakan persoalan tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius.
Sebab, ketika pendidikan karakter dan kedisiplinan tidak dibangun secara kuat di sekolah, dampaknya bisa terlihat di ruang publik.
Salah satunya, menurut dia, adalah munculnya perilaku pelajar yang terlibat geng motor hingga aksi kekerasan di jalan.
