Aminudin menilai, komunikasi antara unsur ulama, pesantren dan kepolisian perlu terus dibangun.
Bukan hanya ketika muncul persoalan, tetapi juga dalam kondisi normal sehingga hubungan antarlembaga tidak sekadar bersifat seremonial.
Dalam konteks itu, ia juga menyampaikan bahwa Kapolres Tasikmalaya Kota dapat berkomunikasi kapan saja ketika dibutuhkan.
Baca Juga:Bukan Pemurtadan, ini Kronologi Rombongan Warga Cibeureum Tasikmalaya ke Jakarta!Truk Tangki B50 Masuk Jurang di Gentong Tasikmalaya, Hindari Kendaraan Lain hingga Oleng
“Yang jelas beliau kapan pun bisa on time, on call, 24 jam,” ucapnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya keterbukaan jalur komunikasi antara kepolisian dengan unsur keagamaan dan masyarakat.
Di tengah dinamika sosial yang bergerak cepat, komunikasi memang menjadi salah satu modal penting untuk mencegah kesalahpahaman.
Apalagi Kota Tasikmalaya dikenal sebagai daerah dengan karakter masyarakat religius dan kuatnya peran pesantren serta ulama dalam kehidupan sosial.
Karena itu, menjaga keamanan tidak cukup hanya dengan patroli dan penegakan hukum, tetapi juga membutuhkan pendekatan komunikasi dan kolaborasi dengan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat.
Silaturahmi Kapolres Tasikmalaya Kota dengan Ketua MUI Kota Tasikmalaya tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa menjaga kondusivitas daerah bukan pekerjaan satu institusi.
Kepolisian menjalankan tugasnya, sementara ulama dan pesantren memiliki ruang strategis dalam membangun kesejukan di tengah masyarakat.
Baca Juga:Kesbangpol Kota Tasikmalaya Ungkap Duduk Perkara Dugaan Pemurtadan, Berawal dari Informasi Mulut ke MulutWarga Tasikmalaya Diminta Tak Gampang Terprovokasi Hoaks, Aspirasi Tetap Harus Beradab
Dengan komunikasi yang terus terjalin, berbagai dinamika di Kota Tasikmalaya diharapkan dapat dikelola secara bersama-sama.
Sebab, suasana aman dan damai tentu tidak lahir dari satu meja saja—apalagi hanya mengandalkan imbauan.
Ia membutuhkan sinergi banyak pihak, termasuk mereka yang setiap hari berhadapan langsung dengan denyut kehidupan masyarakat. (rezza rizaldi)
