Pengurus Masjid di Kota Tasikmalaya Jangan Ketinggalan Zaman, Harus Adaptif di Era Digital

Ketua DMI Kota Tasikmalaya
Ketua DMI Kota Tasikmalaya, KH Tatang Faried
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Tantangan organisasi keumatan di tengah perkembangan zaman semakin kompleks. Digitalisasi yang bergerak cepat menuntut organisasi, termasuk Dewan Masjid Indonesia (DMI), mampu beradaptasi agar tidak tertinggal.

‎‎Ketua DMI Kota Tasikmalaya KH Tatang Faried mengatakan, perkembangan teknologi digital harus disikapi secara bijak oleh seluruh organisasi keumatan. Menurutnya, mengikuti perkembangan zaman bukan berarti meninggalkan nilai-nilai yang selama ini menjadi pegangan.

“Kalau tidak bisa menyesuaikan, sementara sekarang digitalisasi dalam berbagai bidang cukup pesat, kita akan tertinggal. Bukan berarti kita tidak boleh mengikuti, tapi harus mampu menyesuaikan,” kata Tatang saat ditemui di Jalan Letjen Mashudi, Kamis (27/8/2026).

Baca Juga:Kondusivitas Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi, Kadin Kota Tasikmalaya Minta Masyarakat Bijak Menyikapi InformasiJenggot Putih Yanto Oce!

‎‎Menurut dia, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah derasnya arus informasi melalui media sosial. Kemudahan masyarakat dalam memperoleh dan menyebarkan informasi harus dibarengi kemampuan untuk memilah mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan.

‎‎Dewasa ini, kata dia, organisasi keumatan perlu memiliki kemampuan sebagai filter di tengah derasnya informasi digital. Sebab, media sosial dapat memberikan manfaat besar jika digunakan oleh orang yang memiliki niat baik. Sebaliknya, teknologi yang sama juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang merugikan.

“Media sosial itu ada dua hal. Menguntungkan bagi orang yang baik, tapi merugikan bagi orang yang berniat jahat. Karena itu kita harus punya filter,” ujarnya.

‎‎Tatang menyoroti semakin maraknya hoaks yang beredar di media sosial. Kondisi tersebut menjadi lebih rumit dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang kini mampu menghasilkan konten berupa suara, video hingga gambar yang sulit dibedakan dari konten asli.

“Sekarang kalau kita kaji, di media sosial hampir banyak hoaks. Dengan adanya AI, membedakan antara pidato yang benar-benar disampaikan dengan pidato buatan AI saja sudah sulit. Termasuk foto dan gerakannya,” katanya.(Firgiawan)

0 Komentar