Meski demikian, ia memiliki cara sederhana untuk membuat perjalanan terasa lebih ringan. Sepanjang perjalanan, pikirannya kerap tertuju pada sekolah dan teman-teman yang menunggunya.
Terkadang, pikirannya bahkan melayang pada hal-hal sederhana yang akan ditemuinya setibanya di sekolah seperti misalnya menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan disantapnya hari itu.
“Perjalanan dari rumah ke sekolah itu memang lumayan melelahkan, tapi saat saya sudah sampai ke sekolah, rasa lelah itu hilang karena saya disambut oleh teman-teman dan lingkungan yang sangat baik dan ramah,” tuturnya.
Baca Juga:Kronologi Lengkap Perkelahian yang Menyebabkan Tukang Debus di Tasikmalaya Meninggal, Begini Versi PolisiBantah Pembunuhan, Kuasa Hukum Pelaku Sebut Kasus di Karangjaya Penganiayaan yang Sebabkan Korban Meninggal
Begitu tiba di sekolah, perjalanan panjang yang baru saja ditempuhnya seolah terbayar. Sapaan teman-teman dan suasana sekolah yang membuatnya nyaman menjadi alasan Avril tidak menjadikan rasa lelah sebagai alasan untuk berhenti.
Bagi Avril, sepeda bukan sekadar kendaraan untuk menuju sekolah. Setiap kayuhan menjadi bagian dari usahanya mempertahankan kesempatan untuk belajar di tempat yang ia sukai.
Niat untuk menuntut ilmu dan keinginan bertemu teman-teman menjadi dua hal yang membuatnya terus bertahan. Bahkan ketika perjalanan terasa berat, ia selalu memiliki alasan untuk kembali mengayuh keesokan harinya.
“Yang membuat saya tidak menyerah itu karena saya benar-benar berniat untuk bersekolah dan menuntut ilmu, dan saya merasa sangat bersemangat di saat saya akan bertemu dengan teman-teman saya yang sudah menunggu saya,” katanya. (Fitriah Widayanti)
