Tujuan utama metode tersebut bukan sekadar mengejar kemenangan di level junior. Yang paling penting adalah memastikan pemain berkembang dan siap menghadapi tantangan sepak bola profesional.
Salah satu ciri khas pembinaan saat itu adalah keberanian untuk membangun serangan dari lini belakang.
“Kami adalah pelopor permainan dari belakang. Pelatih lawan merasa penasaran dan bahkan kagum. Sampai saat itu, sebagian besar tim lebih sering mengandalkan umpan panjang,” kata Nava.
Baca Juga:Inter Milan Cuci Gudang: Pavard dan Asllani Masuk Daftar Jual, Luis Henrique Menunggu Kepastian Rincian Transfer Diego Moreira ke AC Milan: Gaji Rp60 Miliar, Bonus Capai Rp400 Miliar
Menurutnya, penguasaan bola, pengelolaan permainan, serta keberanian memulai serangan dari lini pertahanan merupakan sesuatu yang belum umum diterapkan pada masa tersebut.
“Kami menawarkan metode permainan yang berbeda,” ujarnya.
Meski membantah pandangan Maldini mengenai akademi Milan, Nava tidak sepenuhnya menilai wawancara legenda Rossoneri tersebut secara negatif.
Ia justru mengapresiasi keberanian Maldini dalam menyampaikan pandangan mengenai masa depan sepak bola Italia.
“Saya menyukai wawancara Maldini. Bagus bahwa dia memiliki keinginan untuk mengubah sepak bola,” kata Nava.
Menurutnya, Maldini juga menunjukkan gagasan yang penuh energi ketika berbicara mengenai aspek politik dan pengelolaan sepak bola.
“Namun, mengenai sektor pembinaan pemain muda kami, apa yang sebenarnya terjadi adalah seperti yang dijelaskan Galli,” tegas Nava.
Dengan demikian, perdebatan mengenai kondisi akademi Milan kembali mengemuka.
Maldini melihat adanya persoalan dalam cara pemain muda berbakat dikembangkan, sementara Galli dan Nava yang pernah terlibat langsung di Milanello memberikan gambaran berbeda.
Baca Juga:Pakar Bursa Transfer Ramal Tiga Pemain Akan Dipaksa Tinggalkan AC MilanEndrick Tolak Permintaan Cardinale Gabung AC Milan
Bagi keduanya, bakat bukanlah sesuatu yang pernah dikekang di akademi Milan.
Justru sebaliknya, sistem yang diterapkan dirancang untuk mengembangkan kemampuan individu sekaligus mengajarkan pemain memahami permainan secara lebih menyeluruh.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pembinaan pemain muda tidak hanya berkaitan dengan taktik atau hasil pertandingan.
Lebih dari itu, bagaimana sebuah akademi mampu menjaga kreativitas, mengembangkan kecerdasan sepak bola, sekaligus membentuk karakter pemain menjadi tantangan utama dalam mencetak generasi baru pesepak bola berbakat.
