Stefano Nava Bantah Ucapan Paolo Maldini Bahwa Akademi AC Milan Tak Bisa Lahirkan Pemain Berbakat

Paolo Maldini
Paolo Maldini Tangkapan layar Instagram@paolomaldini
0 Komentar

“Setelah itu, pemain harus dibentuk dan bakatnya harus ditonjolkan jika memang ada,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena bakat merupakan titik utama perbedaan pandangan antara Maldini dengan orang-orang yang pernah terlibat langsung dalam akademi Milan.

Maldini menilai bakat pemain muda seolah menjadi persoalan ketika berhadapan dengan sistem pembinaan yang terlalu berorientasi pada taktik. Namun, Nava justru mengatakan hal sebaliknya.

Baca Juga:Inter Milan Cuci Gudang: Pavard dan Asllani Masuk Daftar Jual, Luis Henrique Menunggu Kepastian Rincian Transfer Diego Moreira ke AC Milan: Gaji Rp60 Miliar, Bonus Capai Rp400 Miliar

Nava secara tegas membantah bahwa akademi Milan pernah berusaha membatasi pemain berbakat.

“Galli mengatakan sesuatu yang benar. Tidak pernah ada orang di level akademi Milan yang berusaha membatasi bakat. Justru kami berusaha menonjolkan kualitas setiap pemain, yang kemudian bisa menjadi kualitas kolektif,” tegas Nava.

Ia mengakui bahwa metode yang diterapkan di Milanello cukup berat dan terkadang membuat pemain maupun pelatih merasa frustrasi.

Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah membiasakan pemain membangun serangan sejak dari penjaga gawang.

Para pemain sengaja ditempatkan dalam situasi sulit agar mereka belajar mengambil keputusan dan menghadapi tekanan.

“Kami sengaja menempatkan pemain dalam kesulitan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menghadapi kesulitan tersebut,” jelasnya.

Metode itu pada masanya memang terbilang berani. Namun, menurut Nava, tujuan utamanya bukan mengorbankan bakat demi kepentingan taktik.

Baca Juga:Pakar Bursa Transfer Ramal Tiga Pemain Akan Dipaksa Tinggalkan AC MilanEndrick Tolak Permintaan Cardinale Gabung AC Milan

“Kalau melihatnya sekarang, mungkin metode tersebut sedikit berlebihan. Tetapi satu hal yang bisa saya pastikan, kami tidak pernah berusaha mengutamakan taktik dengan mengorbankan bakat dan kualitas,” katanya.

Nava bahkan menilai bakat tidak bisa hanya diartikan sebagai kemampuan teknis. Seorang pemain berbakat juga harus memiliki kecerdasan dalam membaca permainan.

“Bakat tidak hanya soal teknik, tetapi juga memahami apa yang sedang terjadi. Saya berbicara tentang kecerdasan sepak bola,” ujar Nava.

Ia kemudian menjelaskan bahwa metode pembinaan Milan pada masa itu sebenarnya sangat progresif.

Klub memberikan mandat kepada para pelatih akademi untuk mempelajari sistem pembinaan terbaik yang diterapkan klub-klub Eropa.

“Kami diminta klub untuk mempelajari dan memahami akademi terbaik di Eropa. Kami mengambil apa yang kami lihat, kemudian menggabungkannya dengan ide dan pengalaman kami sendiri,” tuturnya.

0 Komentar