Jurnalis Italia: Inter Masih yang Terkuat, AC Milan Seperti AC Mendes 

AC Milan
Ilustrasi AC Milan
0 Komentar

Cardia menilai sejumlah klub Serie A memang sudah melakukan pembenahan dari sisi organisasi. Juventus menjadi salah satu contohnya dengan struktur baru yang lebih jelas.

Namun, perubahan tersebut belum tentu langsung memberikan dampak dalam waktu singkat.

“Dalam jangka pendek, sulit bagi perubahan tersebut untuk langsung cukup,” tulisnya.

Baca Juga:Stefano Nava Bantah Ucapan Paolo Maldini Bahwa Akademi AC Milan Tak Bisa Lahirkan Pemain BerbakatIntip Gaji Tijjani Reijnders di Al-Qadsiah, Dibayar Rp1,1 Miliar Per Hari

Satu klub yang menurut Cardia layak mendapatkan perhatian khusus adalah Como.

Klub tersebut dinilai bisa menjadi kejutan dalam perebutan gelar Serie A. Bahkan, Cardia menyebut Como berpotensi menjadi “kuda hitam” yang bisa mengganggu persaingan Scudetto.

Namun, tantangan besar Como adalah konsistensi. Bermain setiap tiga hari akan menjadi pengalaman berbeda dibandingkan hanya menghadapi satu pertandingan dalam sepekan.

“Tidak mudah beradaptasi dengan ritme bermain setiap tiga hari,” ujarnya.

Karena itu, kualitas skuad dan kedalaman pemain akan menjadi faktor penting untuk menentukan apakah Como benar-benar mampu bertahan dalam persaingan papan atas hingga akhir musim.

Sorotan paling tajam Cardia kemudian diarahkan kepada AC Milan.

Setelah mendatangkan Gonçalo Ramos, Rossoneri kembali membuat investasi besar dengan merekrut Diego Moreira.

Kedua transfer tersebut memiliki satu kesamaan: sama-sama melibatkan Jorge Mendes sebagai agen.

Cardia mengakui bahwa kedua pemain tersebut memiliki kualitas.

Baca Juga:Inter Milan Cuci Gudang: Pavard dan Asllani Masuk Daftar Jual, Luis Henrique Menunggu Kepastian Rincian Transfer Diego Moreira ke AC Milan: Gaji Rp60 Miliar, Bonus Capai Rp400 Miliar

“Pemain lain yang kuat, tentu saja. Namun persoalannya muncul dari struktur baru yang dimiliki klub Rossoneri,” tulisnya.

Menurut Cardia, masalah bukan terletak pada kualitas Moreira maupun Ramos. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana AC Milan membangun struktur pengambilan keputusan di level klub.

Jika klub tidak memiliki struktur yang kuat dan kemudian melakukan beberapa transfer besar melalui agen yang sama, muncul risiko publik mulai memberikan julukan sinis kepada Milan.

“Tanpa klub yang kuat, cukup dengan beberapa kesepakatan seperti ini untuk membuat orang berbicara tentang ‘AC Mendes’,” tulis Cardia.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa bukan berarti AC Milan benar-benar kehilangan kendali atas kebijakan transfernya.

“Mungkin kenyataannya tidak seperti itu. Yang pasti, Milan tetap independen dalam mengambil keputusannya,” lanjutnya.

0 Komentar