Dengan pola tersebut, dia berharap aktivitas parkir tetap berjalan dan target retribusi tidak terganggu.
“Jadi lapak parkir tetap aman untuk mengejar target dan tak sepi seperti dulu,” tambahnya.
Kondisi itu menjadi catatan tersendiri dalam penerapan parkir digital. Sebab, digitalisasi pembayaran memang menjanjikan transaksi lebih tercatat, tetapi di lapangan teknologi tetap harus berhadapan dengan kebiasaan masyarakat.
Baca Juga:Jangan Asal Evaluasi! Dewan Minta Wali Kota Tasikmalaya Pahami Masalah Parkir di LapanganTruk LPG Kecelakaan di Pangandaran! Gas Melon Bertebaran di Jalan, Sopir Meninggal Dunia
Jangan sampai QRIS sudah siap dipindai, tetapi kendaraan justru memilih melaju pergi karena urusan pembayaran dibuat terlalu kaku.
Sebelumnya, digitalisasi transaksi pemerintah daerah di Kota Tasikmalaya diarahkan bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat pelayanan publik sekaligus mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Salah satunya melalui e-Retribusi Parkir yang diluncurkan dalam rangkaian Semarak Pekan QRIS Nasional 2026–Festival Riung QRIS di Plaza Asia, Sabtu (15/8/2026).
Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan menegaskan setiap layanan digital yang diterapkan pemerintah harus menghasilkan perubahan nyata dan dapat diukur.
“Setiap layanan digital harus menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan dan diukur. Waktu pelayanan semakin singkat, pilihan pembayaran semakin mudah, transaksi tercatat secara akurat, kebocoran dapat ditekan, dan potensi Pendapatan Asli Daerah dapat dioptimalkan,” ujar Viman.
Menurutnya, digitalisasi tidak boleh berhenti pada seremoni peluncuran. Sistem yang telah dibuat harus benar-benar digunakan masyarakat dan mampu menghasilkan data transaksi yang rapi.
Dalam konteks parkir, digitalisasi dinilai penting karena sektor tersebut bersentuhan langsung dengan aktivitas masyarakat setiap hari. Transaksi yang sebelumnya berpotensi luput dari pencatatan diharapkan dapat masuk ke sistem secara lebih tertib.
Baca Juga:Mantan Wali Kota Tasikmalaya Angkat Bicara Soal Potensi PAD! Pendapatan Parkir Dadaha Bisa 500 JutaRevitalisasi Sekolah: Swakelola Jangan Jadi Sandiwara!
“Ibaratnya, parkir tidak lagi sekadar urusan kendaraan berhenti dan pergi. Ada rupiah yang ikut bergerak dan harus diketahui ke mana arahnya,” kata Viman.
Ia meminta perangkat daerah terkait memastikan sistem elektronifikasi transaksi daerah berjalan stabil, mudah digunakan, terintegrasi serta memiliki kanal pengaduan yang responsif.
Sosialisasi juga diminta tidak hanya menyasar petugas layanan, tetapi masyarakat sebagai pengguna.
“Evaluasi pemanfaatannya secara berkala berdasarkan jumlah pengguna, transaksi, waktu layanan, penerimaan, dan kepuasan masyarakat,” terangnya.
