Dishub juga menyiapkan pembayaran menggunakan QRIS. Sistem tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap transaksi tunai sekaligus mempermudah pengawasan penerimaan. Namun, sistem tersebut masih dalam tahap uji coba. “Kita lihat dulu. Kalau berhasil nanti diperpanjang. Kita lagi uji coba dulu, bilih ada masalah,” tambahnya.
Uen menegaskan Dishub akan terus mencari pola untuk mengoptimalkan PAD dari sektor parkir.
“Dishub mencoba berbagai cara. Pokoknya optimasi PAD. Yang penting kita melangkah terus, tidak diam. Inovasi terus,” tegasnya.
Baca Juga:Penularan HIV/Aids di Kota Tasikmalaya Masih Didominasi LGBT! Hasil Pemeriksaan 808 LSL , 40 Orang PositifRAJA PLT!
Sebelumnya, mantan Wali Kota Tasikmalaya Muhammad Yusuf juga menyoroti persoalan tersebut. Ia menilai digitalisasi parkir memang diperlukan, tetapi pemerintah harus terlebih dahulu menghitung potensi parkir secara realistis sebelum menetapkan target kepada pihak ketiga.
Ia bahkan mengusulkan pola pembayaran target kepada pemerintah dilakukan di muka agar Pemkot tidak terus-menerus mengejar setoran dari lapangan. Sementara itu, Pemkot Tasikmalaya menyatakan digitalisasi parkir dilakukan secara bertahap.
Sistem tersebut telah diuji, termasuk di kawasan HZ Mustofa, dengan dukungan CCTV dan perangkat digital.
Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya Asep Goparullah mengatakan penerapan digitalisasi tidak bisa dilakukan sekaligus di seluruh wilayah. Pemerintah harus mempertimbangkan kondisi lapangan, sumber daya manusia hingga kemampuan keuangan daerah.
Dengan demikian, digitalisasi parkir kini menghadapi ujian yang lebih konkret. Teknologi boleh semakin canggih, QRIS boleh tersedia, CCTV boleh terpasang.
Tetapi jika target setoran masih tersendat, persoalannya jelas belum selesai. Jangan sampai karcis berganti layar ponsel, tetapi masalah setoran tetap memakai wajah lama. (Rezza Rizaldi)
