Di dunia birokrasi daerah, alumni sekolah kedinasan sering memiliki jaringan yang panjang. Mereka masuk pemerintahan melalui jalur yang relatif sama. Lalu berkarier dari satu meja ke meja lain.
Hanafi menempuh jalan berbeda. Ia lahir di Bima. Bukan dari kultur kampus praja. Tetapi ia bisa masuk ke lingkar inti birokrasi Kota Tasikmalaya.
Bahkan bertahan cukup lama. Dan naik.Salah satu modalnya barangkali sederhana: aturan.
Baca Juga:Setoran Tidak Sesuai Target, Vendor Parkir di Kota Tasikmalaya Nunggak RetribusiAPBD Kota Tasik: Kebanyakan Lemak!
Hanafi pernah menjadi Kabag Hukum Setda Kota Tasikmalaya. Dari ruang hukum itulah ia mengenal birokrasi dari sisi yang berbeda.
Ia tidak sekadar tahu siapa duduk di kursi mana. Ia tahu dasar hukumnya. Minimal, ia dikenal cukup tahu. Kadang bahkan terlalu tahu.
Ada satu warna lain dari Hanafi. Ia tidak terlalu pandai diam. Dalam rapat, pembicaraannya bisa melebar dari satu OPD ke OPD lain.
Ada kebijakan Dinas A, ia bisa berkomentar.Ada persoalan Dinas B, ia bisa memberi pandangan. Ada aturan yang menurutnya perlu diluruskan, ia bisa ikut bicara. Kadang diminta. Kadang tidak.
Di situlah muncul celetukan khas lingkungan birokrasi: Hanafi itu hobi mengomentari. Tentu itu bukan dosa birokrasi. Apalagi kalau komentarnya benar.
Tetapi dalam kultur pemerintahan, pejabat yang terlalu sering masuk ke wilayah orang lain memang bisa dianggap kurang nyaman.
Ada batas antara memberikan masukan dan mengambil wilayah orang lain. Hanafi tampaknya berjalan di garis itu. Kadang komentarnya menjadi masukan berharga.Kadang belum tentu diterima. Tetapi satu hal sulit disangkal: ia jarang diam.
Baca Juga:10 Syarat Menuju Kursi KADIN!Pengelolaan Parkir di Kota Tasikmalaya Langganan Gagal! Inovasi Silih Berganti, Target Tak Pernah Tercapai
Di mata sebagian bawahannya, Hanafi juga dikenal keras. Bukan tipe pejabat yang terlalu banyak basa-basi. Kalau bekerja, bekerja. Kalau ada persoalan, dibicarakan.
Ia juga bukan pejabat yang dikenal terlalu sibuk membangun citra. Mungkin karena perjalanan kariernya sendiri sudah cukup panjang untuk tidak membutuhkan terlalu banyak panggung.
Namun birokrasi mempunyai hukum sosialnya sendiri. Kerja keras tidak selalu berarti semua orang suka. Pejabat yang tegas tidak otomatis dianggap menyenangkan.
Pejabat yang banyak bicara tidak selalu salah. Dan pejabat yang jarang bicara juga belum tentu bekerja. Maka ukuran seorang birokrat sebenarnya bukan popularitas.
