“Kasihan kalau kegiatan sudah dipublikasikan, tetapi ternyata anggarannya tidak ada. Karena itu perubahan APBD harus segera dilakukan sesuai prognosa keuangan daerah,” katanya.
Selain melakukan refocusing anggaran, Oleh Soleh juga mendorong Pemerintah Kota Tasikmalaya memperkuat komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kementerian, hingga DPR RI agar memperoleh dukungan program maupun pembiayaan dari pemerintah pusat.
Ia optimistis duet kepemimpinan Wali Kota Viman Alfarizi Ramadhan dan Wakil Wali Kota Diky Candra mampu mencari jalan keluar di tengah keterbatasan fiskal.
Baca Juga:Edukasi Gizi Jadi Senjata Lawan Stunting, Poltekkes Tasikmalaya Dorong Keluarga Manfaatkan Pangan LokalTambal Sulam Jalan Lingkar Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya Dimulai, Semoga Awet
“Saya yakin Pak Viman dan Pak Diky bisa menyelesaikan persoalan ini. Setelah skala prioritas ditetapkan, komunikasi dengan gubernur, kementerian dan DPR harus diperkuat agar ada program yang bisa dibawa ke Kota Tasikmalaya,” ucapnya.
Di sela kunjungannya, Oleh Soleh juga mengapresiasi gaya kepemimpinan Diky Candra yang dinilainya humanis di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari tekanan ekonomi, pengangguran hingga persoalan fiskal daerah.
Menurutnya, pendekatan komunikasi yang hangat menjadi modal penting dalam menjaga optimisme masyarakat ketika pemerintah sedang menghadapi tantangan anggaran.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra menyampaikan kunjungan tersebut menjadi ruang diskusi yang memberikan banyak masukan bagi Pemerintah Kota Tasikmalaya.
“Kang Haji Oleh Soleh memberikan banyak informasi dan masukan kepada kami sebagai legislatif di pusat. Mudah-mudahan komunikasi ini semakin baik dan menjadi bekal agar ke depan kita bisa berbuat lebih banyak untuk Kota Tasikmalaya,” tutur Diky.
Di tengah tekanan fiskal yang belum sepenuhnya reda, Pemerintah Kota Tasikmalaya kini dituntut tidak hanya pandai menghitung angka, tetapi juga cermat menentukan prioritas.
Sebab dalam situasi keuangan yang serba terbatas, setiap rupiah harus bekerja lebih keras daripada sekadar tercatat di atas kertas. (rezza rizaldi)
