TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Lampu ruang pertunjukan perlahan meredup. Suasana Buleud Art Gallery & Studio di Jalan Pemuda Nomor 1, Kota Tasikmalaya, Minggu (26/7/2026) malam, mendadak hening.
Perhatian penonton tertuju pada panggung sederhana. Tanpa kemegahan tata panggung, pertunjukan hanya mengandalkan permainan cahaya, bunyi, ruang, serta tubuh aktor untuk menyampaikan pesan tentang kehidupan.
Aktor sekaligus budayawan Kota Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah, tampil dalam pertunjukan monolog bertajuk RESTA (Respon Realita). Selama kurang lebih satu jam, ia membawa penonton menyelami kegelisahan manusia dalam menghadapi perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.
Baca Juga:Wali Kota Tasikmalaya Mentahkan Usulan Pembentukan Satgas Penertiban Parkir! Tugas Itu Sudah Melekat di DishubSoal Kerja Sama Parkir, Mantan Kadishub Kota Tasikmalaya: Inovasi Harus Memberi Hasil Lebih
RESTA tidak sekadar menyuguhkan cerita. Pertunjukan tersebut menjadi ruang refleksi terhadap berbagai perubahan sosial, politik, budaya hingga hubungan manusia dengan alam.
Melalui bahasa tubuh, permainan vokal dan simbol-simbol visual, Ashmansyah menyampaikan kritik terhadap kehidupan modern yang dinilai semakin dikuasai kepentingan pribadi, kuasa dan harta.”Menyikapi perubahan, merespon realitas. Warna, suara, bahasa, melebur gerak,” menjadi benang merah dalam pertunjukan tersebut.
Di atas panggung, Ashmansyah mengajak penonton mempertanyakan kembali berbagai narasi tentang kemajuan yang selama ini digaungkan dalam kehidupan politik, hukum, sosial, budaya hingga ilmu pengetahuan.
”Kita terperangkap dalam arus deras perubahan. Pribadi menjadi raja, bahkan berubah menjadi tuhan. Kuasa dan harta menjadi panglima. Politik, hukum, sosial, budaya, dan ilmu-ilmu lainnya menciptakan omong kosong tentang perbaikan hidup, menjadi sampah,” demikian salah satu penggalan naskah yang dibawakan.
Kata sampah kemudian menjadi metafora kuat dalam pertunjukan tersebut. Bukan sekadar limbah yang dihasilkan manusia, tetapi juga menggambarkan tumpukan ego, kebohongan, keserakahan hingga kerusakan moral.
”Sampah di mana-mana, di hati, di pikiran, di semesta raya. Sepi diri. Alam menjadi korban. Merana,” ucap Ashmansyah.Keheningan penonton pun menjadi bagian dari pertunjukan. Terlebih ketika monolog mulai menyinggung kerusakan lingkungan sebagai dampak dari kerakusan manusia.
Bagi salah seorang penonton, Alfiansyah (29) mengaku monolog ini memberikan pengalaman berbeda. Pertunjukan tersebut dinilai mampu menyampaikan kritik sosial dengan cara yang tidak menggurui, sekaligus mengajak penonton berpikir dan melihat kembali realitas kehidupan sehari-hari.
