Merespons Realita Kehidupan di Kota Tasikmalaya Lewat Pertunjukan Monolog

Monolog resta tasikmalaya
Aktor sekaligus budayawan Kota Tasikmalaya Ashmansyah Timutiah tampil dalam pertunjukan monolog RESTA (Respon Realita) di Buleud Art Gallery & Studio, Minggu (26/7/2026) malam. (Firgiawan/Radar Tasikmalaya)
0 Komentar

“Menurut saya, pertunjukan ini bukan hanya soal menonton monolog. Ada banyak hal yang bisa direnungkan. Kita seperti diajak bercermin, melihat bagaimana kehidupan sekarang dan bagaimana manusia memperlakukan sesama maupun alam,” ujarnya.

‎‎Ia menilai kekuatan RESTA justru terletak pada keberanian mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat melalui pendekatan seni yang sederhana.

‎‎”Pesannya cukup kuat. Apalagi ketika berbicara tentang sampah yang bukan hanya ada di lingkungan, tetapi juga bisa ada dalam pikiran dan perilaku manusia. Itu yang menurut saya cukup mengena,” katanya.

Baca Juga:Wali Kota Tasikmalaya Mentahkan Usulan Pembentukan Satgas Penertiban Parkir! Tugas Itu Sudah Melekat di DishubSoal Kerja Sama Parkir, Mantan Kadishub Kota Tasikmalaya: Inovasi Harus Memberi Hasil Lebih

‎‎Tak berdiri sendiri, RESTA dikemas sebagai pertunjukan kolaboratif lintas disiplin seni. Musik yang dimainkan A. Ardiansyah dan Fakong Brader menjadi bagian penting dalam membangun suasana.‎‎

Bunyi-bunyian yang hadir sepanjang pertunjukan tidak sekadar menjadi pengiring. Musik seolah menjadi lawan dialog bagi aktor, membangun ketegangan sekaligus memperkuat emosi dalam setiap adegan.

‎‎Sementara tata artistik yang digarap Leo Si Panatap Bulan dan Ripki Sangu menghadirkan visual sederhana, namun penuh simbol. Permainan cahaya yang minim justru memperkuat nuansa sunyi dan keterasingan yang menjadi bagian dari pesan pertunjukan.‎‎

Kolaborasi tersebut membuat panggung menjadi ruang dialog yang hidup. Musik, cahaya, bahasa dan gerak tubuh saling merespons hingga membentuk satu kesatuan artistik.‎‎

Pertunjukan ditutup dengan tepuk tangan panjang dari penonton. RESTA tidak hanya menyajikan tontonan seni, tetapi juga menghadirkan ruang perenungan mengenai kondisi manusia di tengah derasnya perubahan zaman.‎‎

Melalui karya tersebut, Ashmansyah Timutiah menempatkan seni sebagai medium kritik sosial sekaligus ruang kontemplasi. Sebuah pengingat bahwa perubahan tidak selalu berarti kemajuan ketika manusia mulai kehilangan empati, akal sehat dan kepedulian terhadap sesama serta alam. (Firgiawan)

0 Komentar