TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati setiap 23 Juli masih dibayangi tingginya kasus bullying serta kekerasan seksual terhadap anak. Di Kabupaten Tasikmalaya, tercatat 37 kasus kekerasan seksual dari awal tahun sampai Juni 2026.
Kepala KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto, menyebut angka itu masih bisa bertambah seiring masih berlangsungnya proses pelaporan sepanjang tahun. Yang paling memprihatinkan, sekitar 80 persen pelakunya justruberasal dari lingkungan terdekat korban.
Pelaku bukan orang asing, melainkan orang yang selama ini memiliki hubungan dekat dan dipercaya oleh anak maupun keluarga.
Baca Juga:Hari Anak Nasional Dibayangi Bullying, UPTD PPA Kota Tasikmalaya Soroti Peran Keluarga sebagai Pangkal MasalahDua Pelajar Mangkubumi Tasikmalaya yang Hilang Ditemukan Selamat, Satu Anak Masih Dicari
“Mayoritas dalam catatan kami, pelakunya adalah orang dekat. Orang dekat itu bisa ayah kandung, bapak sambung, kakak, maupun kerabat atau orang lain yang memiliki kedekatan dengan korban,” ujarnya saat ditemui pada kegiatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Islamic Center, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap anak justru lebih banyak muncul dari lingkungan yang seharusnya menjadi tempat paling aman. Oleh karena itu, pengawasan keluarga serta komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya kekerasan seksual.
“Korban tidak hanya anak-anak yang mengalami kekerasan, tetapi dalam sejumlah kasus juga ditemukan anak yang berhadapan dengan hukum sebagai pelaku,” tuturnya.
Ia menjelaskan, tren laporan kasus yang terus meningkat setiap tahun tidak selalu dapat dimaknai sebagai semakin banyaknya tindak kekerasan yang terjadi. Peningkatan angka laporan juga dipengaruhi oleh semakin terbukanya akses masyarakat untuk melapor serta meningkatnya kesadaran korban dan keluarga dalam mencari perlindungan.
“Trennya dari tahun ke tahun memang selalu meningkat. Namun saya tidak bisa langsung menyebut bahwa peningkatan itu sepenuhnya berkonotasi negatif. Hari ini komunikasi sudah semakin terbuka, akses informasi melalui media sosial juga semakin luas sehingga masyarakat lebih berani melapor,” pungkasnya. (Diki Setiawan)
