SD Al Misbah Bentuk Kemandirian Murid Lewat MPLS

Sd al misbah
Seluruh murid kelas I SD Islam Al Misbah foto bersama usai mengikuti rangkaian MPLS tahun ajaran 2026/2027. (Ist)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Islam Al Misbah tidak hanya dimanfaatkan untuk mengenalkan lingkungan sekolah, guru, maupun teman sebaya.

Sejak hari pertama, sekolah justru mulai menanamkan kebiasaan-kebiasaan sederhana yang diharapkan menjadi bekal murid selama menempuh pendidikan, mulai dari memakai kaus kaki dan sepatu sendiri, menjalankan salat duha berjamaah, hingga menghafal ayat-ayat Al-Qur’an.

Panitia MPLS sekaligus Bidang Kurikulum SD Islam Al Misbah, Yayah Suhiah SPd, mengatakan pembiasaan tersebut menjadi bagian dari proses membangun kemandirian murid baru yang tengah beralih dari jenjang taman kanak-kanak ke sekolah dasar.

Baca Juga:Dari Transportasi Menuju Arena Pengabdian Jawa Barat!Malik Mahpud Memilih Jalannya Sendiri!

Menurutnya, murid SD dituntut mulai mampu mengurus dirinya sendiri sehingga tidak lagi bergantung pada bantuan guru maupun orang tua dalam hal-hal yang bersifat mendasar.

“Karena MPLS bukan hanya pengenalan gedung dan guru, tetapi juga pengenalan kemandirian dasar. Dengan melatih anak memakai kaus kaki dan sepatu sendiri sejak hari pertama, mereka belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, sekaligus melatih motorik halus, disiplin waktu, dan rasa percaya diri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pembiasaan tersebut juga menjadi sarana menanamkan tiga nilai utama, yakni kemandirian, disiplin, dan tanggung jawab.

Melalui kegiatan sederhana itu, murid diharapkan terbiasa mempersiapkan diri sebelum berangkat ke sekolah, menjaga kerapian, serta berani menyelesaikan kebutuhan pribadinya tanpa selalu menunggu bantuan orang lain.

Yayah mengakui proses adaptasi murid kelas 1 tidak selalu berjalan mudah. Pada hari-hari pertama, sebagian anak masih mengalami separation anxiety atau menangis saat ditinggal orang tua. Ada pula yang belum terbiasa mengikuti aturan di sekolah, seperti duduk tenang di kelas, mengantre, mengikuti salat berjamaah, maupun mengenali letak ruang kelas dan toilet.

Ia mengatakan pembentukan kemandirian harus diawali dengan tumbuhnya rasa aman pada diri murid. Karena itu, sekolah tidak langsung membebani peserta didik baru dengan berbagai aturan, tetapi lebih dahulu membantu mereka beradaptasi melalui pendampingan guru dan kegiatan yang menyenangkan. Setelah anak mulai merasa nyaman, barulah berbagai pembiasaan dan tata tertib dikenalkan secara bertahap.

0 Komentar