Selain mengganggu sektor pertanian, kekeringan juga memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah. Hingga 15 Juli 2026, BPBD Kabupaten Tasikmalaya menerima permohonan distribusi air bersih dari delapan kecamatan dan sembilan desa, yakni Bojonggambir, Cineam, Pagerageung, Karangnunggal, Bojongasih, Tanjungjaya, Sukarame, dan Sukaratu.
“Kami mencatat sedikitnya 100 ribu liter air bersih telah disalurkan untuk memenuhi kebutuhan 3.115 kepala keluarga atau sekitar 16.869 jiwa,” katanya.
Menurut Roni, krisis air bersih dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan resapan, pencemaran sumber air baku, hingga perubahan iklim yang memicu musim kemarau berkepanjangan.
Baca Juga:Mantapkan Langkah Menuju Kemenangan, Ini Target PAN Kabupaten TasikmalayaSemangat TMMD ke-129, Menyulap Desa Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya
Selain itu, pembangunan infrastruktur penyediaan air seperti SPAM, Pamsimas, embung, desalinasi air, dan SANIMAS dinilai belum optimal. Eksploitasi air tanah serta kerusakan kawasan hutan juga turut memperburuk kondisi.
Untuk memperkuat penanganan, berbagai perangkat daerah telah menyiapkan langkah mitigasi sesuai bidang masing-masing. Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan mempercepat rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan embung, sumur bor, pompanisasi, serta pembangunan 141 unit penampung air hujan yang mencakup sekitar 2.111,61 hektare lahan pertanian.
Sementara itu, Dinas PUPRTLH melaksanakan rehabilitasi jaringan irigasi permukaan di 80 lokasi, rehabilitasi jaringan irigasi di 13 lokasi, pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) Tahap I di 15 lokasi dan Tahap II di 32 lokasi.
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy juga akan memperbaiki Sungai Cikunten guna mengoptimalkan pasokan air irigasi, khususnya bagi kawasan pertanian di Kecamatan Manonjaya.
Di bidang kesehatan, Dinas Kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi meningkatnya kasus ISPA dan diare selama musim kemarau. Sejumlah puskesmas juga telah menyiapkan tampungan air berkapasitas hingga 18 ribu liter sebagai cadangan air bersih.
Upaya penanganan kekeringan turut mendapat dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Daarut Tauhid Peduli, PT Hini Daiki Indonesia melalui program CSR, Perumda Air Minum Tirta Sukapura, BPR milik Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, Perum Perhutani, serta Forum Camat Kabupaten Tasikmalaya yang akan mengintensifkan edukasi penggunaan air secara bijaksana kepada masyarakat.
Roni menegaskan, keberhasilan mitigasi dan penanganan dampak kekeringan hanya dapat dicapai melalui kerja sama seluruh pemangku kepentingan.
