Obrolan kami mengalir begitu saja. Tidak ada agenda resmi. Tidak ada notulen. Tidak ada mikrofon. Hanya percakapan orang yang sama-sama mencintai Kota Tasikmalaya.
Kami berbicara tentang kondisi pemerintahan hari ini. Tentang ekonomi yang masih memerlukan banyak tenaga.
Tentang dinamika politik yang selalu berubah. Sesekali kami tertawa. Sesekali kami serius.
Baca Juga:32 Tahun Malik, Jalan Baru di Bawah Pohon Beringin!Bupati yang Memilih Risiko!
Namun satu hal yang saya tangkap, seluruh percakapan itu lahir dari harapan agar Kota Tasikmalaya terus menjadi kota yang lebih baik. Tidak lebih. Tidak kurang.
Kini H. Budi mengaku sedang menikmati hidup. Ia lebih banyak menata beberapa usaha yang dijalaninya. Waktu yang dulu habis untuk rapat kini bisa dipakai mengurus bisnis.
Waktu yang dulu tersita untuk protokol kini lebih banyak dihabiskan bersama keluarga dan sahabat. Saya kemudian bertanya pertanyaan yang hampir pasti ditanyakan banyak orang. “Apakah akan kembali ke dunia politik?” Ia tersenyum.
Lama. Tidak ada jawaban “ya”. Tidak pula jawaban “tidak”. Hanya senyum. Senyum yang mengandung banyak kemungkinan. Barangkali memang begitu cara politisi berpengalaman menjawab masa depan.
Karena politik memang sulit benar-benar ditinggalkan. Ia seperti magnet. Kadang menjauh. Tetapi tidak pernah benar-benar hilang. Yang jelas, hari ini ia memilih menikmati masa rehatnya. Besok? Biarlah waktu yang menjawab.
Pertemuan sore itu akhirnya memberi saya satu kesimpulan sederhana. Jabatan memang memiliki batas waktu. Tetapi silaturahmi tidak. Kekuasaan bisa selesai. Persahabatan tidak harus ikut berakhir.
Dan di sebuah lapangan padel yang sedang menjadi simbol gaya hidup baru masyarakat perkotaan, saya justru menemukan pelajaran lama.
Baca Juga:Rumah Penjual Es Teh di Cilembang Digeledah Densus 88, RW Sebut Polisi Amankan Senpi hingga BukuPenggeledahan Densus 88 Berawal dari Ledakan di Dadaha, Ini Kronologi Lengkapnya!
Bahwa hidup terus bergerak. Orang berganti posisi. Zaman berubah. Tempat berkumpul pun bergeser dari ruang rapat ke arena olahraga.
Namun selama masih ada ruang untuk berdiskusi, bertukar pikiran, dan memikirkan masa depan kota bersama, harapan itu akan selalu ada. Mungkin itulah makna sebenarnya dari kata “Vamos.” Ayo. Terus bergerak. (red)
