Namun, menurut Yakin, Kobel sama sekali tidak menunjukkan kepanikan.
“Bahkan setelah Akanji gagal, Gregor tidak kehilangan ketenangannya. Dia hanya berjalan menuju gawang, mempercayai semua persiapan yang telah dilakukan, lalu menjalankan tugasnya seperti biasa,” jelas sang pelatih.
Kobel kemudian membuktikan kualitasnya dengan menggagalkan dua penalti Kolombia yang akhirnya menjadi penentu kemenangan Swiss.
Bagi publik sepak bola dunia, aksi tersebut mungkin terlihat luar biasa. Namun bagi Murat Yakin dan seluruh staf pelatih Swiss, penampilan itu sama sekali bukan kejutan.
Baca Juga:Swiss Tantang Argentina di Babak Perempat Final, Akhiri Kutukan 72 TahunMesir Tuding FIFA Atur Argentina Menangkan Piala Dunia: Wasit Tak Ingin Kami Menang
“Menggagalkan dua penalti di Piala Dunia memang sesuatu yang luar biasa. Tetapi bagi kami yang bekerja dengannya setiap hari, itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Itulah standar yang selalu ia tetapkan untuk dirinya sendiri,” ucap Yakin.
Yakin menilai kekuatan terbesar Kobel bukan hanya refleks atau kemampuan membaca arah bola, melainkan mentalitas yang dimilikinya.
Menurutnya, dunia mungkin hanya akan mengingat dua penyelamatan penalti tersebut. Namun dirinya akan selalu mengingat karakter dan tanggung jawab yang diperlihatkan Kobel sepanjang pertandingan.
“Sepak bola mungkin akan mengingat penyelamatan penaltinya. Tetapi saya akan mengingat mentalitasnya. Dia tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Dia hanya menerima tanggung jawab ketika tim sangat membutuhkannya,” tutur Yakin.
Pelatih Swiss itu bahkan menyebut pemain terbaik dalam sebuah pertandingan tidak selalu harus seorang penyerang yang mencetak gol.
“Terkadang pemain terbaik bukanlah striker yang mencetak gol kemenangan. Kadang-kadang pemain terbaik justru seorang kiper yang membuat seluruh tim tetap percaya sampai akhir pertandingan,” tegasnya.
Kini fokus Swiss beralih ke babak perempat final, di mana mereka akan menghadapi Argentina yang dipimpin Lionel Messi.
Baca Juga:Media Italia: Absen dari Liga Champions, AC Milan Diprediksi Rugi Rp500 Miliar Tahun DepanFiorentina Incar Bintang Muda Real Madrid: Transfer Tergantung Izin Mourinho
Argentina lolos setelah melakukan comeback dramatis atas Mesir dalam laga yang juga dipenuhi kontroversi.
Tim Tango sempat tertinggal 0-2 sebelum akhirnya membalikkan keadaan menjadi kemenangan 3-2 lewat gol Cristian Romero, Lionel Messi, dan Enzo Fernandez.
Seusai pertandingan, pelatih Mesir Hossam Hassan bahkan menuding FIFA ingin Argentina terus melaju demi kepentingan pemasaran, meski tuduhan tersebut belum mendapat tanggapan resmi.
